Budidaya Madu Kelulut di Siak Masuk Paket Wisata Musim Durian

SIAK SRI INDRAPURA - Budidaya madu kelulut milik Juanda dan rekan-rekannya warga warga Kampung Lalang, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau dipanen orang nomor 1 di Siak, Drs H Alfedri bersama Deputi Direktur RAPP Jusuf Wibisono dan SHR RAPP Siak dan Meranti Syamsuria M Hasim.

Rasa manis dan segar madu kelulut itu membuat Alfedri ketagihan saat mencicipnya langsung dari sarang kelulut. "Rasanya manis dan segar," kata Alfedri, Jumat (16/3/2019).

Disedotan kedua masih juga terasa manis, namun setelah pindah kewadah yang lain barulah merasakan pahit dan sedikit kecut. "Pahit nih," kata dia lagi. Meski pahit ia tetap saja menyedot madu kelulut tersebut.

Menurut  Alfedri, ini bisa masuk dalam paket wisata. Pada saat musim durian, para pelancong berwisata kesini sambil menikmati manisnya madu kelulut.

Ia berharap warga dari kecamatan lain bisa meniru keberhasilan Juanda ini, sehingga bisa terwujud program nasional one village one product.

Seperti diketahui khasiat dari madu kelulut ini sudah terbukti, dan manfaat dari madu kelulut ini ternyata sangat bagus bagi tubuh. Madu ini sangat baik bagi kesehatan dan bisa menyehatkan sejumlah penyakit pada tubuh manusia.

Sementara pemilik budidaya madu kelulut tersebut mengatakan, dalam setiap kali panen, dirinya bisa mendapat 80 liter madu. Untuk harganya mencapai Rp 500 ribu perliternya. Saat ini ia melayani pesanan dari Jakarta, Surabaya, dan Tanjung Pinang.

Menurut dia, lebah madu kelulut atau disebut juga lebah madu trigona ini berbeda dengan lebah madu sialang, bentuknya lebih kecil dari lebah madu sialang sehingga hasil yang didapat perbulan juga lebih sedikit. Namun harga jual madu ini lebih tinggi dari madu sialang.

Dilain pihak, Manajer SHR RAPP Siak dan Meranti Syamsuria M Hasim mengatakan pihaknya sudah memberangkatkan petani tersebut ke Selangor, Malaysia untuk belajar budidaya kelulut tersebut.

Dari hasil studi tersebut produksi madu jadi lebih meningkat dan panen bisa lebih cepat. "Dulu panennya 6 bulan sekali, sekarang sudah bisa 2 bulan sekali," ujar Syamsuria.

Kedepan melalui Community Development (CD) Program pihaknya akan mengembangkan budidaya kelulut ini secara berkelompok di kecamatan lainnya.

"Saat ini baru ada 2 kelompok dan kedepan bisa lebih banyak. Setelah ini kami akan ke Sungai Mandau," jelasnya.

Usaha budidaya warga kampung Lalang tersebut sudah pernah dikunjungi oleh Syamsuar, Bupati Siak sebelumnya.

[grc]
loading...