Gempa M8,9 Hantui Mentawai, BPBD Sebut 33 Desa Berada di Zona Merah

PADANG – Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyinggung soal prediksi lima ahli gempa Jepang. Di mana akan ada gempa sebesar M8,9 di Mentawai dan sekitar Bengkulu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi membenarkan bahwa ancamant tersebut memang benar ada.

 Baca juga: Wagub Sumbar: Ahli Jepang Sebut Gempa dan Tsunami Dahsyat Intai Mentawai

“Itu kalau ancaman bencana itu ada, sama seperti yang disampaikan oleh pihak Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG), namun kita tidak tahu kapan terjadinya, dimana titiknya, kita tidak tahu, bahkan pihak BMKG pun tidak membuat release kapan terjadinya,” kata Novriadi, Jumat (10/5/2019).

Novriadi mengatakan, yang paling penting di daerah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, seperti memberikan pelatihan dan pemahaman tentang bencana kepada masyarakat Mentawai khususnya. “Pelatihan yang diberikan dalam bentuk evakuasi mandiri,” ujarnya.

Dari data BPBD Mentawai dari 43 Desa yang ada di seluruh Mentawai ada sebanyak 33 desa yang terdampak tsunami, baik di sepanjang pantai barat maupun timur, bahkan pihak BPBD sudah melakukan pelatihan di setiap Kecamatan melalui Satuan Penanggulangan Bencana (Satgas PB) termasuk di desa-desa kepada Kelompok Siaga Bencana (KSB).

“Jadi mereka ini membantu memberikan edukasi juga kepada masyarakat, selain itu kita juga dibantu dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Non Government Organization (NGO), seperti ASB dan sebagainya,” katanya.

 Baca juga: Peneliti Jepang Sebut Mentawai Diintai Tsunami dan Gempa, Ini Kata BMKG

Keseriusan pihak pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai melalui BPBD, pada akhir bulan lalu pihak BPBD sudah memberikan simulasi akan bahaya bencana serta memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya peduli pada diri sendiri terlebih dahulu, memberikan pendidikan jika terjadi gempa mesti berbuat apa.

Mantan Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Mentawai ini meminta kepada masyarakat jangan terlalu takut dengan isu-isu gempa yang terjadi di Kepulauan Mentawai, bahkan Novriadi menyampaikan tetap melaksanakan aktivitas atau rutinitas seperti biasa, yang terpenting yaitu kesiapan dalam menghadapi bencana-bencana yang bil suatu saat terjadi.

 https://img-o.okeinfo.net/content/2018/09/02/340/1944775/bengkulu-diguncang-gempa-3-0-sr-bmkg-tidak-berpotensi-tsunami-VavysKMPpk.jpg

“Jangan takut, tetap beraktivitas, pergi ke ladang, pergi melaut, jangan takut, yang penting kita waspada dan siaga, jika terjadi guncangan terasa kuat atau lama hingga 20 detik, langsung melakukan evakuasi mandiri, jangan menunggu sirine, atau abah-abah, karena bisa saja sirinenya rusak, jadi langsung saja lakukan evakuasi,” ungkapnya.

Untuk logistik saat ini BPBD Mentawai selalu menyiapkan, makanan seperti beras, indomie, selimut serta kebutuhan lainnya saat terjadi bencana sudah disiapkan di gudang, namun kata Novriadi stok logistik di gudang tidak terlalu banyak, sebab jika dilakukan pembelian logistik terlalu banyak, maka akan rugi karena makanan bisa saja kadaluarsa atau expired.

“Kalau logistik kita saat ini ada di gudang, terutama kebutuhan bahan pokok, tapi tidak banyak, karena makanan ini ada batas kadaluarsanya, kalau untuk stok makanan saat bencana besar, tidak cukup, nah tentu kita harus mengajukan dana darurat kita, namun kita sudah ada anggaran darurat di Keuangan, itu sewaktu-waktu bisa kita gunakan,” Katanya.

Kendati begitu, BPBD Mentawai masih banyak kekurangannya, baik dari sarana maupun personil yang begitu minim, termasuk salah satunya yaitu alat komunikasi radio, dari sepuluh Kecamatan belum bisa terakses secara merata meski tower-tower radio sudah ada di beberapa titik.

“Karena keterbatasan repeater kita, di samping tenaga juga terbatas, sebenarnya masing-masing Kecamatan menyiapkan tenaga operator untuk menggunakan sarana-sarana yang tersedia, sehingga mereka bisa melaporkan situasi dan kondisi kebencanaan yang terjadi,” ungkap Novriadi.

Pihak BPBD Mentawai juga sudah mengusulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk membantu memperbanyak repeater radio di Mentawai. “Sehingga tidak perlu menopang dengan daerah lain, karena kita sudah punya repeater sendiri,” ucapnya.

Tak hanya itu, tenda-tenda juga masih kurang, namun BPBD Mentawai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sudah mengajukan usulan untuk bantuan tersebut, yang menjadi kendala lagi biaya angkutnya dari pusat ke Mentawai. Meski begitu, masyarakat dihimbau agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan, tetap waspada.

Novriadi juga menambahkan, dimana akhir Juni akan ada Festival Pesona Mentawai (FPM) di Dusun Mapaddegat, Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara, lokasinya ada dipinggir pantai untuk itu pihaknya mengantisipasi dengan membuka jalur evakuasi.

“Untuk mengantisipasi hal ini, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dn Pekerjaan Umum (PU), kita bahkan membuat jalan evakuasi baru di kawasan wisata pantai Mapadegat, jalan tembus ke Sipora 2 (SP2), karena tempat wisata baru di Mapaddegat lebih dekat jalur evakuasinya arah SP 2 dibanding mereka lari ke bukit Mapaddegat ini, karena tidak terkejar sampai 3 menit meski menggunakan kendaraan, Kita juga membuat rambu-rambu penunjuk jalur evakuasi,” tutupnya.

(rzy)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI
loading...