Kisah Haru Seorang Pendiri Panti Asuhan di Pekanbaru, Meski Ditinggal Suami Tetap Lanjutkan Usaha Demi Anak-anak

PEKANBARU - Panti Asuhan Darul Ilmi merupakan panti asuhan yang baru berdiri sekitar 6 bulan yang lalu dan terletak di Jalan Sudirman Rawasari I tepatnya di Belakang Gedung Juang 45, RT.02 RW 16 Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau.

Saat ini, panti asuhan masih mengontrak pada salah satu rumah warga dengan biaya Rp12,5 juta. Dengan 25 orang anak serta 6 orang pengasuh termasuk pemilik panti.

Pendiri panti ini, Fitri mengatakan, pendirian panti ini berawal dari keadaan serta amanah dari sang suami yang telah meninggal dunia.

Fitri merupakan istri dari seorang ketua yayasan serta pemilik salah satu panti asuhan yang ada di Pekanbaru. Dari awal pernikahannya dengan suaminya, baik-baik saja dan bahu-membahu membantu dalam merawat dan mendidik anak panti. Sampai suatu ketika sang suami mengalami sakit parah dan hanya bisa duduk di kursi roda karena tidak sanggup lagi berjalan.

Namun, dari umur pernikahan Fitri dengan suaminya terhitung kurang lebih 6 tahun, dan tepat sebelum Hari Raya Idul Fitri, suaminya menghembuskan nafas terakhir.

Selang beberapa hari setelah kepergian suaminya, mertua bersama sanak saudara datang berombongan dan mengambil alih semua urusan yang ada di yayasan tersebut.

Awalnya fitri sangat senang, karena keluarga mertua yang awalnya tidak peduli terhadap panti asuhan tersebut akhirnya datang dan peduli kepada anak-anak serta dirinya. Namun, semakin hari sikap dari keluarga suaminya semakin tidak bisa ditebak dan kadang bersifat semena-mena.

Sampai suatu kalimat yang harusnya tidak diucapkan itu terlontar oleh keluarga suaminya. Mereka mulai mempermasalahkan urusan panti sampai urusan pribadi Fitri. "Kamu tidak ada hak disini, karena dia tidak ada keturunan dengan kamu, jadi lebih baik kamu pergi dari sini," ceritanya sembari terhenti sejenak dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kejadian itu.

Ia menyadari bahwa selama menikah dengan suaminya, ia belum memiliki keturunan. Walaupun begitu, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk tinggal serta mengabdi kepada anak-anak panti yang ada di yayasan tersebut. Namun keluarganya pun mengusir Fitri dari yayasan tempat ia mengabdi dan tinggal selama ini.

Fitri yang merasa berat hati, akhirnya memutuskan untuk pergi karena tidak tahan berada di yayasan tersebut. Tepat malam takbir hari raya Idul Fitri 2018 lalu. Saat itu, merupakan keadaan yang cukup memprihatinkan bagi dirinya, belum habis masa idah serta duka yang ditinggalkan oleh sang suami. Kini dirinya harus pergi dari yayasan tempat ia tinggal dan mengabdi. 

Melihat dirinya yang saat itu berkemas, anak-anak panti serta beberapa pengasuh yang sudah akrab dengan dirinya justru memilih ikut pergi bersama dirinya. Saat itu ada sekitar 25 anak-anak panti yang ikut bersamanya. Dan ia pun membawa mereka ke kampung halamannya di Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara.

Akhirnya, Fitri memboyong anak-anak tersebut dan membawa mereka ke kampung halamannya. Kemudian terlintas pemikirannya. bahwa tidak mungkin semua anak-anak ini ikut dengan dirinya, karena jika tidak ada anak-anak dalam yayasan pastinya yayasan tersebut akan mati dan pengorbanan yang dilakukan oleh sang suami akan hancur sia-sia.

Akhirnya Fitri pun memutuskan untuk membujuk anak-anak tetap tinggal di yayasan, namun karena rasa sayang anak-anak tersebut mereka tetap bersikukuh untuk ikut dengannya.

Dalam pendirian sebuah panti asuhan ini awalnya tidak ada rencana dalam hidup Fitri, justru ia berencana membuka panti jompo dan panti balita karena saat ini banyak anak yang tidak mau merawat serta mengakui orang tuanya dimasa sekarang. Dan alasan pembuatan panti balita adalah dikarenakan saat ini dirinya belum memiliki keturunan dan ia ingin memberikan kasih sayang yang ia miliki. Karena menurutnya siapapun dia yang namanya wanita pasti memiliki sifat keibuan walaupun itu tidak dengan darah dagingnya.

Namun, Tuhan berkata lain. Mungkin ini merupakan jawaban dari Tuhan, tentang bagaimana merawat anak yatim piatu, ia pun teringat pesan almarhum suaminya yang berkata "Tak ada hal yang paling mulia di dunia ini selain merawat anak yatim piatu," suaminya pun berpesan jika nantinya ia sudah tidak ada. Mau kiranya ia tetap membantu dan menyelamatkan anak-anak yatim yang telah di tinggalkan oleh orang tuanya.

Akhirnya ketika selesai Idul Fitri, ia balik lagi ke Pekanbaru dan mencari rumah yang layak dan cukup menampung 31 orang di dalamnya. Selama beberapa hari mencari, ia mendapatkan informasi dari mulut ke mulut sampai akhirnya bertemu dengan ketua RT yang memiliki bangunan disamping rumahnya dan bisa ditempati.

Harga sewa sebuah rumah tersebut adalah Rp12,5 juta. Setelah itu Fitri akhirnya menempati rumah tersebut dan saat ini ada 25 jumlah anak yang ada di panti tersebut, dengan 17 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Dari 25 orang, 5 diantaranya mengenyam pendidikan SMP, 14 orang SD, 5 orang balita dan seorang bayi.

Ia juga menjelaskan bahwa sebagian dari anak-anak yang ada di panti ini, tidak tau asalnya dari mana. Terkadang ada ketua RT ataupun RW yang melihat anak terlantar di daerahnya pasti akan diantar ke panti ini.

Seperti seorang bayi yang ada di panti asuhan ini, ia bukanlah anak kandung Fitri, melainkan bayi yang diletakkan di depan panti. Pada hari itu saat pukul 10 pagi, ketika keluar kamar ia melihat sebuah kain lusuh dengan kantong plastik hitam yang dari jauh kelihatan seperti sampah, awalnya ia tidak menyangka kalau itu bayi, di dalam pikirannya kalau itu sampah, karena sebelumnya ia tidak pernah membuang sampah kesana.

Fitri pun menghampiri tempat itu, dan betapa terkejutnya dirinya saat yang ia temukan bukanlah sampah melainkan seorang bayi. Rasa haru, bahagia menyelimutinya. Ternyata Tuhan memberikan seorang bayi walaupun bukan dari rahimnya. Bahkan,  tali pusat bayi tersebut pun baru tanggal dan belum sembuh.

Dan untuk usianya sendiri karena tidak mengetahui akhirnya dibuatlah tanggal lahir ketika pertama kali bayi itu ditemukan, dan saat ini keadaan bayi itu baik-baik saja.

Di tempat yang sama, ketika ditanya apakah saat ini panti asuhan Darul Ilmi memiliki akun sosial media seperti facebook, instagram, twiter maupun yang lainnya. Dengan senyum Fitri menjawab bahwa ia tidak ada niat dan keinginan untuk membuat akun seperti itu,  terlebih jika akun seperti itu kita gunakan untuk meminta belas kasihan dari orang lain.

Ia juga menceritakan dan teringat akan pesan dari almarhum suaminya bahwa jangan memaksakan orang untuk menyumbang,  dan jangan buat hal-hal ke media untuk belas kasihan, karena setiap orang punya hati nurani,  jadi kalaupun mereka memiliki harta yang berlebih pastinya mereka akan bersedekah.

"Saya teringat akan pesan dari suami saya, setiap manusia pasti memiliki hati nurani, kita tak perlu memaksakan orang untuk memberi dengan meminta belas kasihan orang lain. Kalau mereka punya harta berlebih tanpa diminta pun mereka pasti akan memberi," kata Fitri yang akrab disapa Bunda ini.

Selain itu, ia juga berpesan kalau saat ini panti asuhan tidak memiliki akun sosial media, dan bagi siapa yang ingin memberikan donasinya bisa langsung datang ke panti tersebut, karena takutnya nanti ada orang yang menyalahgunakan akun tersebut.

Walaupun saat ini belum adanya donatur tetap, namun Fitri tetap optimis, dan ia merasa bersyukur masih banyak orang yang peduli dengan anak-anak panti. Ia berharap, nantinya ada seorang donatur yang mau menghibahkan sepetak tanah untuk bangunan panti asuhan agar dirinya tidak perlu mengontrak dan uangnya bisa di gunakan untuk keperluan lainnya.

[grc]
loading...