Pedagang Ayam Penyet Beromzet Rp45 Juta Sebulan, Hary Tanoe: Ini Contoh Berhasil dari Bawah

JAKARTA - Salah satu sumber penghasilan yang dilakoni oleh masyarakat Indonesia adalah berdagang. Namun, hal ini membutuhkan kerja keras dan kerajinan untuk dapat mencapai posisi yang disebut berhasil.

Nilai keberhasilan bagi tiap orang pun berbeda, termasuk Kasnadi, penjual ayam penyet Warung Bejo Sambel Ijo yang berlokasi di Jalan Bangka Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Baginya, memiliki usaha kuliner ayam geprek gerobakan saat ini sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya.

Dalam satu hari, omzet yang ia dapatkan dari berjualan ayam geprek sejak pukul 09.00-00.00 bisa mencapai Rp1,5 juta. Dalam sebulan, usaha miliknya bisa menghasilkan Rp45 juta.

“Tanpa berjuang, hidup tidak bisa berkembang. Saya juga harus berjuang tiap hari banting tulang, sekarang berhasil. Dulu untuk membiayai anak sekolah. Sekarang anak sudah pada kerja, tinggal untuk memanjakan lima cucu saya,” ujar Kasnadi.

Pria 57 tahun ini menceritakan untuk sampai tahap ini, membutuhkan proses yang panjang dan usaha yang tak kenal lelah. Tahun 1970-an, dirinya memboyong keluarga dari Tegal ke Jakarta. Ia pun akhirnya membuka usaha ayam penyet untuk menghidupi keluarganya sejak 2012.

Tiga tahun lalu, saat gerobak ayam penyetnya mulai lapuk termakan usia, ia mendapatkan bantuan gerobak dari Partai Perindo.

“Awalnya ditawarin gerobak Perindo, karena gerobak milik saya sudah jelek. Alhamdulillah sekarang sudah bagus,” lanjut Kasnadi.

Sabtu siang (30/3/2019), ia dikunjungi oleh Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo dan Ketua Umum Kartini Perindo yang juga Calon Legislatif DPR RI nomor urut 1 Dapil DKI Jakarta II Liliana Tanaja Tanoesoedibjo. Mendengar pemasukan Kasnadi yang cukup besar dari berjualan ayam penyet dengan keuntungan 30%-40%, Hary Tanoe menjadikannya sebagai contoh keberhasilan dari seseorang yang rajin.

“Tujuan Partai Perindo memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil, dari segi penghasilan mereka, bagaimana meningkat penghasilannya. Makanya kita kalau di daerah kota ada program gerobak. Supaya mereka bisa usaha, menghasilkan penghasilan yang lebih baik. Ini sebagai contoh, dari bawah bisa berhasil. Kalau di Indonesia banyak komponen seperti itu, Indonesia bisa maju,” ungkap Hary Tanoe.

Terkait Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Hary Tanoe berpesan agar masyarakat tetap menjaga kualitas usahanya meski sudah berhasil. Sebagai pengusaha, ia memperhatikan tak jarang orang menurunkan kualitas ketika dagangan atau usahanya sudah dikenal.

“Kadang ada orang kalau berhasil, kualitas tidak diperhatikan, jangan seperti itu. Kualitas yang konsisten,” ujar Hary.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat menyediakan tempat yang layak untuk para pedagang UMKM. Hal ini supaya mereka bisa mendapatkan tempat yang bersih, tertib, dan teratur.

“Saya rasa dengan begitu akan lebih meningkat penghasilan mereka. Karena banyak masyarakat kita penghasilannya terbesar dari UMKM, termasuk kuliner di dalamnya, baru petani dan nelayan,” pungkas Hary Tanoe.

(kha)

loading...