Wah, Permintaan Kopi Liberika Meranti Capai 200 Ton per-Bulan ke Luar Negeri, Petani Ngaku tak Sanggup, Ini Alasannya..

Internet

SELATPANJANG - Balai Penelitian Tanaman Industri (Balitri) Kementerian Pertanian meminta kepada petani kopi Liberika Meranti untuk memasok kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton per-bulan.

"Melalui Balittri kita pernah ditawarkan untuk memenuhi permintaan kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton perbulan, kita tidak sanggup," kata Ketua Kelompok Indikasi Geografis (IG) Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM) Abdul Hakim.

Penolakan itu bukan tanpa alasan, menurutnya, untuk memenuhi permintaan tersebut, luas hamparan kebun kopi di Meranti harus 20.000 hektar.

"Bukan kita tak sanggup memenuhi permintaan itu, untuk memenuhi permintaan 200 ton perbulan, kita harus memiliki luas kebun kopi sebesar 20 ribu hektar. Saat ini luas kebun kopi kita 1500 hektar, untuk itu kita butuh lagi pengembangan," ujarnya.

Meski ramai dipasaran negeri jiran, dan pemintaan dari daerah lainnya, namun peminat kopi Liberika Meranti masih sepi di negeri sendiri. Butuh perjuangan panjang bagi kelompok tani kopi mempromosikan kopi asli Meranti itu.

"Kita sedang gencar- gencarnya lakukan promosi, untuk itu kita juga perlu dukungan dinas terkait untuk memasarkan kopi ini," kata Hakim.

Dijelaskan Hakim, Kopi Liberika Meranti sangat digemari masyarakat Malaysia sejak dulu. Peminatnya cenderung meningkat setiap tahunnya membuat para petani kopi di Kepulauan Meranti, khususnya di Pulau Rangsang tidak kwatir dengan pemasarannya.

Hakim juga mengatakan, penjualan kopi liberika Meranti sudah menembus pasar Malaysia sejak tahun 1980 silam. 

Hal itu dipengaruhi letak geografis antara Kecamatan Rangsang dengan Batu Pahat, wilayah distrik negara bagian barat Johor, Malaysia hanya 94,90 kilometer melintasi jalur Internasional Selat Malaka.

"Ke Malaysia bisa ditempuh dengan waktu 2 jam. Cenderung lebih mudah ketimbang menuju ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru yang menghabiskan waktu hampir setengah hari perjalanan," kata Hakim.

Menurut Hakim, harga beli untuk pasar Malaysia saat ini cenderung fluktuatif, namun cukup tinggi. Terlebih para pedagang besar yang membawa kopi liberika ke Malaysia tidak menyortir kopi yang dipanen petani. Baik itu buahnya berukuran besar, kecil atau tidak sengaja tercampur buah mentah. 

"Semua diangkut mereka tanpa disortir terlebih dulu. Yang dijual ke Malaysia itu bukan standar Indikasi Geografis (IG) harganya hanya Rp 45 perkilo. Jika standar IG itu harganya bisa mencapai Rp 100 ribu," ungkap Hakim.

Lebih lanjut diungkapkan, sebanyak 90 persen kopi liberika Meranti ditampung pasar Malaysia, dan hanya 10 persen saja yang menembus pasar lokal. Pada tahun 2016 lalu, ekspor kopi liberika Meranti ke Malaysia mencapai 71 ton dalam bentuk green bean atau setara dengan 800 ton buah segar.

"Pengiriman yang kami lakukan melalui kapal lintas batas. Dalam satu tahun itu kita mengirim sebanyak dua kali, itu pun tergantung musim panen. Sekarang ini hasil panen menurun karena intrusi air laut, tahun 2018 hanya 45 ton," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DisperindagkopUkm), Mohammad Aza Fahroni, Selasa (12/3/2019), mengatakan terkait pemasaran kopi tersebut pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan MPKLRM.

"Mereka belum ada melapor ke dinas. Tapi nanti kita akan segera berkoordinasi dengan mereka dan menghimbau mereka untuk mengurus SKA," ujar Azza

Lebih lanjut dijelaskan, Disperindagkopukm akan membantu mengembangkan kopi tersebut melalui Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM).

"Kita akan kembangkan dan kita bantu meningkatkan kualitas kopi tersebut. Dari segi kualitas masih kurang, untuk itu tahun ini akan kita bantu mereka mesin sortir," ungkapnya.

[grc]
loading...