Hobi Membaca dan Menulis, Dokter di RSUD Tengku Rafian Siak Terbitkan 6 Buku dalam Waktu Lima Bulan

SIAK SRI INDRAPURA - Profesi dokter ternyata tidak melulu melayani orang sakit dan sibuk pada kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan. Buktinya seorang dokter di RSUD Tengku Rafian Siak, dr Jondri Akmal bisa juga menerbitkan 6 buku dalam waktu 5 bulan saja.

Jika dihitung sejak tahun 2011, sudah sangat banyak buku karya dokter yang sudah 17 tahun menjabat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Semua berawal dari hobinya membaca dan menulis yang dilakukannya disela aktivitasnya sebagai dokter.

"Saya suka membaca dan menulis, tulisan pertama saya berjudul A Marginal Note From Little John di tahun 2011," ujar Jondri Akmal, Jumat (28/11/2019).

Jondri ceritakan, tulisan tersebut ia bukukan yang dicetak secara self Publishing. Buku ini mengisahkan tentang pengalaman kaji banding ke rumah sakit Austin Hospital di Melbourne Australia.

Kemudian di tahun 2012 ia menulis buku yang kedua, berjudul Sixty dlDays in Rotinsulu Hospital (the trues Ernetis’s experience).

"Buku ini menceritakan pengalaman isteri saya dr.Erneti Aziz menjalani stase paru di rumah sakit paru Rotinsulu Bandung," terang pria 52 tahun ini.

Di tahun berikutnya, Jondri sempat membuat sebuah buku tentang reuni perak angkatanya saat masa kuliah dulu. Buku itu berjudul, Secawan Kenangan Baashuo 88. Buku yang tebalnya 152 halaman itu dicetak oleh percetakan Visigraf di kota Padang.

Ia menuturkan, setelah tahun 2013 dirinya tak pernah menerbitkan buku lagi. Tetapi ia selalu menulis dan menulis. Terkadang tulisan itu dikirimkan ke salah satu media cetak dan lainnya dan terkadang disimpan saja di laptop.

"Saya juga pernah menulis sebuah artikel di media cetak ternama di Riau yang berjudul 'KB Pria, siapa takut? dan yang kedua berjudul Kartini dan PKK," imbuhnya.

Meski sibuk dengan rutinitas medis, dalam kurun waktu 2014-2018 sudah banyak artikelnya yang ditulis dan diterbitkan oleh koran harian. Seperti, demam berdarah dan paraweh, demam berdarah dan foggingisme, gizi buruk dan palasik, berobat keluar negeri dan nasionalisme.

Kemudian asap oh asap, meneroka penyakit pasca galodo, antisipasi penyakit pasca tsunami, merokok dan insentif. Pentingnya status kesehatan Jemaah haji, pengidap gizi buruk dirawat jalan, mungkinkah?, suatu waktu sebagai petugas haji, hak anak dan rumah sakit kita dan lain-lain.

Keseriusannya untuk mengabdi dan melayani masyarakat membawa dirinya didaulat sebagai dokter teladan pertama tingkat kabupaten Siak pada tahun 2010.

Di tahun yang sama terpilih sebagai dokter teladan peringkat kedua tingkat Provinsi Riau. Dan pernah mendapatkan penghargaan dokter keluarga Award.

Semangatnya untuk menulis buku kembali menyala, pertengahan tahun 2019 dirinya bertemu dengan penerbit minor. Alhasil jadilah terbit 6 buku dalam kurun waktu 5 bulan.

Adapun buku tersebut berjudul, Buram Pudok (deepublish, 2019), Cado Domas (deepublish, 2019), Caram Dukes Inspiratif (deepublish, 2019), Ciloteh bernas Sang dokter (guepedia, 2019), Pelangi masa kecil sang dokter kampong (guepedia, 2019) dan Roads to Mars (guepedia, 2019).

Beberapa waktu yang lalu, setelah peringatan hari kesehatan di halaman Kantor Bupati Siak, ia berikan sejumlah buku karyanya kepada Bupati Siak. Karyanya tersebut dapat respon positif dari orang nomor satu di negeri Istana itu.

[grc]