oleh

Juni Mendatang, Ratusan Kades di Konawe Utara akan Berkunjung ke Meranti

SELATPANJANG – Jika tidak ada aral melintang, Kepala Desa (Kades) se Kabupaten Konawe Utara, Propinsi Sulawesi Tenggara akan mengunjungi Desa Kundur Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau untuk melakukan studi banding pengolahan air gambut menjadi air bersih.

Kedatangan rombongan diagendakan pada bulan Juni mendatang. Ada sebanyak 200 orang yang akan berkunjung ke Meranti. Informasi ini disampaikan oleh Kepala PMD Kabupaten Konawe Utara.

banner 300x250

“Kami berencana akan mengunjungi Desa Kundur, Kepulauan Meranti untuk melihat langsung pengolahan air gambut menjadi air bersih,” kata Kepala PMD Konawe Utara, Sulkarnain Sinapoi.

Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kepulauan Meranti, Drs Ikhwani mengatakan dengan adanya kunjungan ini diharapkan desa yang lain bisa terpacu untuk mengembangkan inovasi sesuai dengan potensi yang ada di desa.

“Kunjungan daerah lain untuk belajar ke Desa Kundur bisa dijadikan motivasi bagi desa lain untuk berinovasi mengembangkan potensi desa. Apalagi tentang inovasi air yang sudah menjadi kebutuhan banyak orang,” ujar Ikhwani saat berbincang-bincang dengan GoRiau.com, Senin (6/5/2019).

Lebih lanjut dikatakan Ikhwani, pihaknya sudah melakukan motivasi terhadap seluruh kepala desa di Kepulauan Meranti dan melakukan studi banding ke beberapa daerah di Indonesia terkait pengembangan potensi desa.

“Kita sudah berusaha memotivasi mereka (kepala desa) terkait pengembangan potensi dan inovasi desa, tergantung kepala desa mau mengembangkan seperti apa, karena banyak potensi desa di Meranti yang mau dikembangkan,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Desa Kundur, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti telah berhasil menghasilkan inovasi untuk mengolah air gambut menjadi air bersih layak minum.

Sebelumnya warga desa setempat terpaksa menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air gambut tersebut memiliki warna merah bening dan bisa dikatakan belum layak minum walaupun sudah dimasak.

Pemasaran air minum ini melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bina Usaha Sejati dimana produksi sedikitnya 100 galon perhari.

Pj Kepala Desa Kundur, Miswanto mengatakan air minum yang diproduksi tidak kalah dengan air minum galon yang biasa diproduksi. Hal itu dikarenakan air yang diolah berasal langsung dari mata air, hanya saja sudah bercampur dengan tanah gambut.

“Air galon lain itu biasa air hujan, kualitas kadar asamnya masih ada, kalo ini dijamin hampir sama dengan Aqua, pH 6, sehingga lebih segar,” ujarnya.

Dirinya mengatakan ada 3 orang yang mengelola BUMDes tersebut dimana 2 orang teknisi dan 1 orang untuk pemasaran.

Bagian pemasaran, Doni mengatakan bahwa respon masyarakat untuk air minum tersebut semakin meningkat. Bahkan tidak hanya bagi masyarakat desa, namun mulai diminati seluruh masyarakat di kabupaten Meranti.

Untuk harga jual juga relatif standar dengan air galon yang dijual biasanya yaitu Rp 4.000 untuk lokal (Desa Kundur) dan Rp 5.000 untuk di luar Desa Kundur.

Pengelolaan air gambut ini digagas pertama kali oleh Sutrisno yang saat itu menjabat sebagai kepala Desa Kundur.

Secara singkat air gambut yang diambil dari kanal Desa Kundur dimasukkan ke dalam bak yang telah disediakan. Di bak itu air dicampur dengan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan diaduk. Proses ini disebut Flock (warna air gambut).

Air yang dicampur PAC dan diaduk itu akan berwarna coklat susu. Setelah melalui proses pemecahan, air ini dialiri ke bak penampungan. Jika diendapkan akan terlihat air jernih di bagian atasnya.

Air dari endapan akan masuk ke Water Treatment. Selanjutnya melewati proses reverse osmosis (RO). Hasil akhir air gambut akan menjadi bersih dan bening. Melewati ultraviolet siap untuk diminum dengan Sekitar pH sekitar 4 sampai 5.

Air minum ini diberi nama Salwa oleh pihak BUMDes yang artinya kebahagiaan.

Tahun ini juga, kata Doni Pemerintah Desa Kundur bersama-sama dengan Dinas PMD Kepulauan Meranti melalui Bidang Pengembangan Usaha Ekonomi Desa akan mengupayakan bantuan alat untuk air mineral dalam kemasan (AMDK).

“Sehingga nanti kita sudah punya kemasan sendiri untuk air minum kita,” ujarnya.