oleh

Jokowi Vs Prabowo, Begini Arah Dukungan Parpol Eks GAM di Pilpres 2019

BANDA ACEH – Partai Aceh dan Partai Nanggroe Aceh (PNA), partai politik lokal yang dibentuk mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berbeda sikap di Pilpres 2019. Kedua partai masih konsisten mendukung capres seperti 2014.

Partai Aceh mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sedangkan PNA sudah mengumumkan sikapnya mensuport Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin.

banner 300x250

“Kami sudah ‎buat pengumuman bahwa PNA mendukung Jokowi-Ma’ruf,” kata Ketua Umum PNA Irwandi Yusuf di sela mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin 28 Januari kemarin.

Perbedaan sikap politik kedua partai bukan hal baru. Meski sama-sama berlatar belakang GAM dan lahir pascaperang, Partai Aceh dan PNA juga kerap bertolak belakang dalam bersikap termasuk di tataran Pilkada. Ini ditenggarai juga tak lepas dari sejarah terbentuknya partai.

PA dan PNA

Partai Aceh dibentuk pada 2008, setelah pemerintah Indonesia dan GAM sepakat berdamai di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Partai Aceh memenangkan Pemilu 2009 dan 2014 di Aceh.

Jokowi-Ma’ruf Amin

Jelang Pilkada 2012, keretakan di tubuh Partai Aceh terjadi. Irwandi Yusuf salah satu elite GAM yang berpengaruh di Partai Aceh terdepak karena beda sikap politik dengan petinggi partai.

Bersama para pengikutnya, dia kemudian membentuk Partai Nasional Aceh. Eks GAM yang berseberangan sikap politik dengan Muzakir Manaf Cs bergabung ke PNA.

Partai Nasional Aceh ikut Pemilu pertama pada 2014, tapi raihan kursinya masih jauh dari Partai Aceh. Agar bisa jadi peserta Pemilu 2019, Partai Nasional Aceh lalu mengubah namanya menjadi Partai Nanggroe Aceh.

Pilpres

Soal Pilpres 2019, Irwandi Yusuf menegaskan PNA tak akan mengubah dukungan. Artinya sama seperti 2014, PNA siap memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Aceh.

Ketua Majelis Tinggi PNA, Irwansyah alias Muksalmina dipercaya jadi pemimpin Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma’ruf.

“Karena tahun 2014 dukung juga. Artinya, saya kenal beliau (Jokowi) sudah semenjak di Solo dan dia pernah kerja di Aceh dua sampai tiga tahun lebih,” ujar Gubernur nonaktif Aceh yang kini sedang terjerat kasus korupsi dana otonomi khusus.

Prabowo-Sandiaga

Menurut Irwandi, Jokowi sudah mengetahui seluk-beluk Aceh. Irwandi juga menganggap pemerintahan Jokowi periode pertama cukup bagus.

“Karena saya kenal dan suda‎h ada performanya dalam tahun ini, walaupun bukan top, tapi lumayan,” ucap mantan juru propaganda GAM itu.

Sementara Ketum Partai Aceh Muzakir Manaf optimis bisa memenangkan Prabowo-Sandiaga di Aceh.

“Jika Pilpres 2014 kita meraih 60 persen, maka Pilpres 2019, kita akan meraih kemenangan 85 persen,” kata pria yang akrab disapa Mualem.

Muzakir Manaf dan Prabowo memiliki masa lalu unik. Muzakir memimpin GAM, sedangkan Prabowo pernah jadi Pangkostrad dan Danjen Kopassus, pasukan elite TNI paling dimusuhi GAM.

Prabowo mengakui saat memimpin Kostrad, Muzakir Manaf adalah sosok paling dicarinya. Sebaliknya Muzakir dan pasukannya juga mengincar Prabowo untuk dihabisi.

“Saya bersahabat dengan Mualem merupakan suatu keanehan,” kata Prabowo saat berkunjung ke Aceh akhir 2018.

Tapi, keduanya sudah melupakan masa lalu dan kini bersahabat. Bagi Muzakir, Prabowo adalah sosok yang tegas dan konsisten, sangat layak memimpin sekaligus memperbaiki perekonomian Indonesia.

Beda Sikap

Meski Muzakir sudah memutuskan Partai Aceh mendukung Prabowo, tapi orang nomor dua di partainya menolak ikut.

Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak justru menegaskan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Dia masuk dalam tim inti kampanye Jokowi di Aceh.

“Saya di Pilpres 2014 adalah pendukung Prabowo-Hatta. Kala itu saya menolak Jokowi-JK. Tapi setelah melihat kinerja Presiden Jokowi yang sangat memperhatikan Aceh, pilihan hati saya pun berubah,” ujar mantan juru bicara GAM itu dalam konferensi pers di Banda Aceh, 23 Januari lalu.

(sal)