Selama Wabah Covid-19, Penyandang Tunanetra di Pekanbaru Kesulitan Mendapatkan Penghasilan

banner 468x60

PEKANBARU – Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Pekanbaru, Suparman, mengungkapkan bahwa anggotanya makin sulit mendapat pendapatan selama wabah Covid-19 meliputi wilayah ibuKota Provinsi Riau, Pekanbaru.

Kepada Antara di Pekanbaru, Selasa (5/5/2020), Suparman mengatakan, bahwa Pertuni Kota Pekanbaru beranggotakan 65 kepala keluarga, sebagian besar bekerja sebagai tukang pijat, ada pula yang menjadi pengamen.

banner 400x400

“Mayoritas anggota kita berprofesi sebagai tukang pijat… Hampir tidak ada orang yang mau pijat lagi,” katanya.

Ia menuturkan, usaha layanan pijat sepi pelanggan sejak wabah Covid-19 masuk ke Pekanbaru. Langganan layanan pijat Suparman pun terus berkurang semasa wabah.

“Bulan Januari saya bisa dapat panggilan 80 orang, bulan Februari turun jadi 60 orang, bulan April turun tinggal 15 orang, dan bulan Mei ini baru satu orang,” katanya.

Ia mengatakan bahwa tunanetra yang menjadi tukang pijat sudah sangat berhati-hati dalam menangani pelanggan agar tidak tertular virus corona. Mereka mengenakan masker dan mengukur suhu tubuh pelanggan untuk mendeteksi kemungkinan pelanggan sakit sebelum memijat.

“Kalau badannya panas kita lebih baik tidak memijatnya,” kata Suparman.

Namun dia mengatakan bahwa kontak fisik langsung tidak bisa tidak dilakukan dalam memberikan layanan pijat. Tukang pijat tunanetra tidak bisa menggunakan sarung tangan karena mereka mengandalkan indra peraba dalam memberikan terapi pijat.

“Karena harus dengan sentuhan langsung orang jadi takut untuk pijat,” katanya.

Suparman mengatakan Pertuni berusaha menggalang dana dari donatur untuk membantu meringankan beban tunanetra yang kehilangan mata pencarian selama wabah Covid-19.

banner 970x250