oleh

Abrasi, Pulau Bengkalis Terancam Hilang

Bagus Santoso Anggota DPRD Fraksi PAN, M Ali Kades Teluk Pambang bersama warga melihat kondisi Abrasi parah di desa Teluk Pambang ujung pulau Bengkalis berhadapan dengan Selat Melaka

BENGKALIS – Kekhawatiran hilangnya pulau Bengkalis dari peta bumi Indonesia bukan karena dicaplok negara lain tetapi karena amblas berubah menjadi lautan. Fenomena berkurangnya luas daratan Pulau Bengkalis sudah sangat mengkhawatirkan terutama bagi warga yang tinggal sepanjang pesisir utara.

Bagus Santoso anggota DPRD Provinsi Riau kepada wartawan mengatakan bahwa dari kunjungan kerja diketahui Abrasi semakin parah. Tidak hanya bibir pantai yang terjun kelautan tetapi sudah menjamah pemukiman dan perkebunan warga.

banner 300x250

“Abrasi Pulau Bengkalis sangat parah, perlu tindakan cepat untuk upaya penyelamatan. Ini sudah bencana tidak main- main, kampung dan kebun sudah dimakan laut,” kata Bagus Santoso dengan nada serius.

Lebih lanjut Bagus Santoso yang pada pemilu 2019 akan maju ke DPR RI dari Dapil Riau 1 menjelaskan semua desa- desa bagian utara Bengkalis  diterjang abrasi dari ujung pulau Desa Teluk  Pambang, Bantan Air, mentayan, Selat Baru, Jangkang sampai Pangakalan Batang.

Setelah sebelumnya melihat abrasi desa mentayan kemarin berlanjut  ke Desa Teluk Pambang di dampingi Kades M. Ali dan warga melihat kondisinya sudah parah dan mempihatinkan. Pemerintah desa mengakui tidak mampu menghadapi bencana abrasi. 

“ terus terang desa tidak sanggup membangun pemecah ombak, dan ini menjadi beban pikiran dan beban moral saya sebagai kepala desa. Mohon suara kami di desa di dengarkan oleh pemerintah kabupaten, provinsi terutaman pusat,” kata M Ali sambil menunjuk bahwa sekitar 2 KM dari tempatnya tegak daratan sudah menjadi lautan Selat Melaka.

Berdasarkan penelitian Sigit Sutikno, Dosen Teknik Sipil Universitas Riau abrasi selain hantaman gelombang laut dan pertahanan hutan mangrove minim, laju abrasi juga akibat alih fungsi lahan menjadi kebun sawit.  Diketahui fenomena alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit oleh PT Meskom pada ujung Pulau Bengkalis, adalah penyebab utama laju abrasi. Kondisi Pulau Bengkalis, semula ditutupi mangrove, hutan rawa gambut dan tanaman laut, berubah jadi lahan sawit sekitar 11.000 hektar.

Bila dilihat perubahan garis pantai selama 26 tahun menurut Sigit, Pulau Bengkalis sudah kehilangan 1.504,93 atau, 42,57 hektar rata-rata per tahun.

Pantai Pulau Bengkalis memang rawan abrasi. Selain wilayahnya berada pada dataran rendah sebagian besar berupa tanah gambut sekitar 75 persen apalagi kini tidak terlindungi mangrove sementara ombak Selat Melaka langsung menerjang setiap saat.

Untuk mengatasi abrasi diminta pemerintah Pusat melakukan program dan kegiatan penanggulangan bencana abrasi pulau Bengkalis dari APBN; “ Pulau ini gerbang Indonesia dengan negara jiran, wajib Jakarta memprioritaskan, ini sudah bencana,” kata Bagus Santoso anggota DPRD Riau dari Fraksi PAN.