oleh

Bupati Alfedri Bangga, Ponpes Tumbuh di Siak Bak Cendawan di Musim Hujan

SIAK – Bupati Siak, Alfedri mengungkapkan kegembiraannya karena di kabupaten Siak pondok pesantren tumbuh bak cendawan di musim hujan. Sedikitnya ada 36 pondok pesantren di kabupaten Siak saat ini.

“Dari awalnya hanya 16 pondok pesantren. 11 pondok pesantren di antaranya merupakan pondok pesantren tahfiz quran. Bahkan saat ini kita sedang mengupayakan membangun pondok pesantren tahfiz hadist di Siak. Nanti kita upayakan ada donaturnya,” kata Bupati.

banner 300x250

Menurut Alfedri, berkembangnya pondok pesantren di kabupaten Siak tanda berjalannya visi religiusitas kabupaten Siak. Ghirah masyarakat juga tumbuh pesat untuk mengantarkan anak anaknya ke pondok pesantren.

“Dari pondok pesantren ini nanti kita harapkan generasi religius semakin membumi,” kata dia.

Sementara KH M Toyib, pimpinan pondok pesantren Riyadussholihin, di kampung Delima Jaya, kecamatan Kerinci Kanan, Selasa (26/5/2020) sore mengaku senang atas kedatangan orang nomor satu di kabupaten Siak itu.

Ia bangga bukan sekadar sebagai seorang bupati, namun Alfedri sudah berteman akrab dengannya sejak lama. “Kami bangga atas kedatangan Pak Bupati, beliau bukan kali ini saja datang. Saat ada acara gebyar salawat, beliau juga selalu hadir di pondok pesantren kami ini,” kata M Toyib, yang juga Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Siak itu.

Menurut M Toyib, Alfedri merupakan sosok pemimpin yang merakyat dan ramah. Ia menyebut, hingga hari ini banyak kenangannya bersama Alfedri dalam mengembangkan pondok pesantrennya itu hingga terkenal di Kerinci Kanan.

“Kini santri kita berjumlah 300 lebih. Setiap tahun bertambah. Artinya kita cukup mendapat kepercayaan dari masyarakat dan pemerintah,” kata dia.

Kedatangan Buapti Siak Alfedri di pondok pesantren itu memang sudah dinanti pimpinan pondok pesantren KH Muhammad Toyib. Keduanya tampak akrab dan seperti sudah berteman sejak lama.

Saling mengucapkan salam, bertanya kabar dan mengucapkan minal aidin wal faizin. Maklum, pertemuan itu masih dalam suasana lebaran Idul Fitri 1441 H.

Alfedri dan rombongan dijamu di ruangan sederhana di dalam kompleks pesantren itu. Mereka duduk melantai tanpa alas tikar apalagi permadani.

Di depan mereka terhidang pula salak pondoh asli petani Dayun, makanan tradisional dan kopi hitam yang diseduh dari biji kopi asal Lampung.

Kedua tokoh itu bercengkrama tentang prospektif pendidikan pondok pesantren di kabupaten Siak. Alfedri juga tampak nyaman duduk tanpa alas tikar.

Sebab, Alfedri lahir juga dari keluarga sederhana, menjadi representasi pemimpin yang lahir dari kalangan bawah.

Jangankan duduk di lantai berkeramik, menjala ikan di sungai saja sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil dan tidak canggung untuk melakukannya kembali saat ini.

“Ini kopinya khas, beda dengan kopi lain. Cobalah, saya senang kalau dikasih kopi oleh pak kiai,” kata Alfedri kepada wartawan yang hadir.

Setelah bercengkrama beberapa saat, Alfedri ingin meninjau pembangunan 3 kelas baru di pondok pesantren itu, dari dana CSR Bank Riau Kepri yang diusulkannya.

Namun, KH M Toyip itu justru mengajak Alfedri ke kamar barokah. Tidak hanya Alfedri, semua yang hadir dipersilahkan masuk ke kamar barokah.

“Sudah sampai di sini, rugi kalau tak masuk ke kamar barokah. Tamu-tamu yang datang selalu saya ajak ke kamar barokah ini,” kata M Toyib.

Alfedri pun ikut ke kamar barokah dimaksud. Ternyata di kamar itu sudah terhidang makanan. Alfedri pun mengambil piring lalu mengambil nasi serta lauk pauknya.

Ia menenteng sendiri piringnya ke ruangan tempat pertemuan awal. Semua tamu akhirnya makan namun tetap menjaga jarak.

Suasana pun semakin mencair. Kamar barokah dimaksud ternyata ruangan untuk makan, sehingga tetamu yang hadir di pesantren itu diharapkan mendapat keberkahan dari makanan yang disediakan sang kiyai.

Usai makan sore itu, waktu asar pun tiba. Alfedri dan M Toyib langsung ke musala untuk menunaikan ibadah salat asar. Semua yang hadir di pesantren itu tetap mengikuti protokol kesehatan Covid 19.

“Kita meninjau pembangunan lokal baru. Pada Juli mendatang lokal baru itu akan dipergunakan untuk fasilitas belajar mengajar jika kondisi normal tanpa Corona,” kata Alfedri.

Dari musala, Alfedri dan M Toyib berjalan kaki menuju ruangan kelas baru yang ada di bagian atas kawasan pondok pesantren. Ia senang melihat persentase pembangunan mencapai 90 persen dan hanya tinggal finishing.

“Saya puas dengan pembangunannya, kualitas bangunannya cukup baik dan sesuai harapan,” kata dia.

Alfedri menerangkan, pembangunan 3 ruang kelas di pondok pesantren Riyadussholihin itu merupakan dana CSR dari Bank Riau Kepri. Ia merekomendasikan ke Bank Riau Kepri untuk memberikan bantuan CSR berupa pembangunan ruangan kelas itu.

“Karena itu kita monitoring progres pembangunan pondok pesantren ini. Ini tahap finalisasi, dan pada tahun ajaran baru sudah bisa dimanfaatkan,” kata dia.

Alfedri menerangkan, perkembangan pondok pesantren ini sangat pesat. Setiap tahun santrinya terus bertambah. Kiay M Toyip mengusulkan untuk pembangunan ruangan kelas baru. Usulan itu diterima dan direkomendasikan Alfedri ke Bank Riau Kepri agar menurunkan dana CSR.

“Dana CSR Bank Riau Kepri yang turun mencapai Rp 464 juta. Mudah-mudahan dana ini dapat membantu pondok pesantren ini,” kata dia.adv