Tokoh Senior PP Kunjungi Sutrio, Ingatkan Proses Hukum Harus Tetap Jalan, Tanah Melayu Harus Bersih dari Premanisme

banner 468x60

PEKANBARU – Tokoh Pemuda Pancasila (PP) asal Rokan Hulu, Taufik Tambusai mendatangi Pondok Tahfiz Darul Mukhlasin dalam rangka menjenguk Ustadz Sutrio yang menjadi korban premanisme oleh oknum PP.

banner 400x400

Dalam kunjungannya, Taufik mengaku miris dan menangis melihat kondisi Ustadz Sutrio yang berpostur tubuh kecil dianiaya oleh dua orang oknum PP, ditambah lagi dengan kondisi pesantren yang sangat sederhana.

“Kita sampaikan ke dia (Sutrio) supaya tidak usah takut, kita dalam rangka menegakkan amal maruf nahi munkar, inilah tantangannya, jadi jangan pernah patah semangat,” kata Taufik kepada GoRiau.com, Selasa (10/11/2020).

Disampaikan Taufik, sebagai Mantan Ketua PP di Rokan Hulu dan pernah menjadi Wakil Sekretaris Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) PP Riau, serta sebagai Ummat Islam dia sangat tersinggung saya kelakuan oknum ini.

“Itu adalah cara yang sangat tidak manusiawi, sekarang laporan itu sudah sampai di Polda Riau, saya juga sudah share beritanya ke Gubernur dan Wakil Gubernur, supaya kasus ini tetap dikawal dan tidak hilang di tengah jalan,” tegasnya.

“Saya masuk PP bukan karena saya preman, saya ini orang Melayu asli, nama saya Taufik Tambusai, saya mau tanah Melayu bersih dari hal-hal biadap seperti itu, saya juga mau membersihkan oknum-oknum yang arogan terhadap ulama,” terangnya.

Lebih jauh, Taufik juga mengetahui bahwa ada indikasi kasus ini dihentikan secara kekeluargaan. Taufik menyebut kalau soal maaf memaafkan, Allah SWT juga maha pemaaf, tapi proses hukum harus tetap jalan.

“Kita mau lihat seperti apa hukum di Indonesia ini. Ini kesekian kalinya tokoh agama kita dianiaya, ditambah dengan kepulangan Habib Rizieq, kita tidak tahu bagaimana selanjutnya nanti,” tambahnya.

Taufik sendiri didampingi oleh keponakannya, As’ad, yang pertama kali membuka kasus ini ke luar dan melaporkan kepada Taufik bahwa ada penganiayaan terhadap seorang ustadz di lingkungannya.

As’ad juga menjelaskan bahwa berdasarkan informasi terbaru Ustadz Sutrio tidak dipijak di dalam mushalla, namun ditendang menggunakan sepatu oleh A dan satu orang lagi yang dia tidak tahu pasti siapa namanya.

“Korban itu ditendang pakai sepatu, dan sajadah di dalam mushalla di pijak dua orang, mereka datang tiga mobil saya tidak tahu berapa jumlah pastinya. Mereka tidak bawa atribut PP, tapi mereka menyebut bahwa mereka orang besar PP disini,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, kasus penganiyaan terhadap pendakwah kembali terjadi di Riau, korbannya adalah ustadz Sutrio, Sutrio adalah salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Jalan Garuda Sakti Km 6, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar.

Penganiayaan ini terjadi sekitar satu minggu yang lalu, dan Sutrio beserta pengurus pondok sengaja tidak membuka kasus ini ke luar dikarenakan ketakutan.

Ketakutan ini dikarenakan pelaku adalah salah seorang pimpinan Ormas di wilayah tersebut, sementara, pengurus pesantren adalah orang-orang pendatang. Sehingga, mereka tidak berani bercerita kepada siapapun di luar.

Tak hanya dipukul, pelaku yang berinisial A juga memaksa para pengurus pesantren untuk menutup pondok pesantren yang dibuka gratis untuk orang-orang miskin dan anak yatim tersebut. Ini membuat pengurus pesantren semakin terpukul.

Sekarang, kasus ini sudah ditangani oleh Polda Riau yang tertuang dalam laporan bernomor LP/450/XI/2020/SPKT/RIAU tanggal 6 November 2020. Pelaku akan dijerat dengan Pasal 170 dan atau Pasal 351 KUHP.

banner 970x250