oleh

Teledornya RS dan Pemerintah Cegah Penularan Virus Corona

UJIAN untuk saya dan keluarga masih berlanjut. Pagi ini, Jumat (20/11/20) pihak Puskesmas Simpang Tiga menghubungi kami. Mengabarkan hasil swab test terhadap saya dan 5 anggota keluarga lainnya. Saya dinyatakan positif. Juga adik dan keponakan. Termasuk karyawan adik saya. Empat positif dan dua negatif.

banner 300x250

Insyaallah kami menerima takdir Allah tersebut dengan lapang dada. Menjalaninya dengan sabar. Sambil terus berikhtiar dan berdoa agar disembuhkan Allah. Aamiin Ya Robal Alamin.

Berangkat dari pengalaman saya dan keluarga, dalam kasus meninggalnya abang kandung saya Ahmad Chudori bin Khusainu di RS Aulia Pekanbaru, Jumat (13/11/20) petang, saya merasa pihak-pihak terkait teramat teledor sehingga wabah yang semula hanya menghinggapi abang saya, menular ke sedemikian banyak keluarga.

Saya tulis kritik ini bukan untuk menyalahkan, tapi agar ada perbaikan prosedur pencegahan virus Corona. Perlu pencegahan sejak awal agar tak menular ke mana-mana, terutama terhadap pasien yang bergejala, terlebih sudah dinyatakan positif Corona.

Pihak RS Aulia adalah pihak yang menurut saya paling awal menjadi pemicu menularnya Covid-19 pada saya dan keluarga.

Sebelum wafat, abang saya dirawat 5 hari. Dari pertama masuk gejala kliniknya jelas demam berkepanjangan disertai batuk, namun baru hari terkahir, setelah pernafasannya terganggu, dokter menyarankan isolasi. Padahal, demam berkepanjangan adalah salah satu indikasi terpapar Covid-19. Karena masih dirawat di ruang rawat inap umum, kami keluarga bebas menjenguknya. Dugaan saya, abang saya sejak awal sudah terpapar, sehingga kami yang datang menjenguk selalu kontak dengannya dan akhirnya tertular.

Insyaallah kalau sejak awal RS Aulia mencurigai abang saya terpapar Covid-19 dan diisolasi lebih dini, kontak dengan keluarga bisa dibatasi. Bukankah mencegah jauh lebih baik dari mengobati?

Keteledoran juga nyata dilakukan pemerintah. Dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Satgas Penanggulangan Covid-19. Betapa tidak, sejak abang saya dinyatakan meninggal positif Covid-19, tidak pernah ada petugas yang memberi kami arahan. Jangankan kami diawasi, sekedar dikasih saran untuk melakukan isolasi mandiri pun tidak.

Kami benar-benar dibiarkan bebas. Semata karena kesadaran diri saja, saya melakukan isolasi mandiri. Tidur terpisah dengan istri dan anak-anak sejak lima hari terakhir. Kalau kami degil, bisa saja kami kemana-mana tanpa masker dan menyebarkan virus yang ada pada diri kami kepada siapa saja.

Saat kami menjalani swab test di Puskesmas Simpang Tiga, petugas tak sepatah kata pun memberi kami arahan. Saat saya tanya, disuruh pulang saja dan dibilang nanti ditelpon untuk mengabari hasil sweb.

Bahkan sampai sekarang, setelah berjam-jam saya dan keluarga ketahuan positif terpapar Corona, pihak Puskesmas hanya bilang kalau nanti ada dokter yang menghubungi, tapi sampai sekarang belum terjadi.

Saya lantas bertanya, apa seperti ini prosedur pencegahan terhadap kelompok yang paling potensial, paling rentan terpapar Corona, pasien dengan gejala bahkan positif Corona dan keluarganya?

Patutlah jumlah warga Riau yang terpapar Corona sedemikian membludak dari hari ke hari. Provinsi dengan populasi penduduk 6 juta jiwa, kenapa jumlah kasus barunya mengalahkan Jawa Timur yang jumlah penduduknya 5 kali lipat dari Riau.

Wahai semua pemangku amanah terkait penanggulangan Corona di Bumi Lancang Kuning, berhentilah berseremoni. Memamerkan acara-acara yang seolah kalian sudah banyak berbuat mencegah Covid-19 merebak. Fakta yang saya dan keluarga alami adalah teramat teledornya semua pihak yang diberi amanah mencegah.

Jika tulisan saya ini membuat sejumlah pihak tersadar, itulah harapan saya. Ingat, ada jutaan nyawa yang keselamatannya ada pada kesungguhan pihak terkait menjalankan tugas. Hari ini saya dan keluarga yang kena. Jika keteledoran seperti ini terus berlanjut, keluarga lain tinggal menunggu giliran. Nauzublillah summa naudzubillah.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Riauterkini.com/Ketua AMSI Riau.