oleh

Cepat Tanggap, Siak Urutan ke-7 Kabupaten se- Riau yang Lahan Gambutnya Sedikit Terbakar

SIAK – Dinilai sebagai Kabupaten yang sangat cepat tanggap dan respon dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla),Bupati Siak Alfedri diundang mengikuti Rapat kordinasi khusus terkait pengendalian karhutla yang dipimpin langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara, Senin (22/2/2021).

“Hari ini Bupati Siak, Alfedri berada di Istana Negara untuk mengikuti Rakorsus dengan Presiden RI terkait pengendalian Karhutla ini. Karena kita Siak dinilai cepat tanggap dalam penanganan Karhutla ini,” kata Sekda Siak, Arfan Usman usai mengikuti Vikon pengarahan Presiden RI Joko Widodo terkait pengendalian Karhutla ini.

banner 300x250

Disebutkan Arfan, Siak berada di urutan ketujuh di Riau untuk kabupaten yang lahan gambutnya terbakar. Namun karena Gubri sudah menetapkan Riau Siaga Karhutla, maka daerah juga harus ikut siaga berperan agar tidak terjadi karhutla ini.

“Bapak Presiden telah memberikan pengarahan dan penekanan kepada kita semua untuk kita harus memprioritaskan upaya pencegahan dan tidak terlambat dalam menangani titik api, itu penekanan pertama arahan Presiden. Makanya kita dengan tim yang ada harus saling berkordinasi,” kata Arfan Usman.

Selanjutnya ditambahkan oleh Kadaops Manggala Agni Siak, Ihsan Abdillah. Respon cepat yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Suak serta instansi terkait lainnya dalam penanganan Karhutla ini membuat Siak berada diurutan ketujuh se Riau yang minim lahan gambutnya terbakar.

“Berdasarkan perbandingan citra satelit data kementerian DLHK, Siak itu berada di nomor 7 daerah gambut pesisir Riau yang terbakar. Jadi kita paling kecil dari Kabupaten pesisir lainnya,” kata Ichsan kepada GoRiau.com, Senin (22/2/2021).

Dijelaskannya, sejak awal tahun, Manggala Agni Siak baru 6 kejadian turun dalam memadamkan Karhutla. Itu ada di Kecamatan Mempura dan Sungai Apit.

“Makanya data Karhutla kita dengan data Karhutla dari Damkar atau Polri berbeda. Kalau di Damkar itu sekitar 34 hektar, kita baru 30 hektar, karena Kecamatan Kandis dan Minas bukan masuk wilayah kita,” kata Ichsan lagi.

Dari kegiatan Pemadaman yang dilakukannya, Ichsan mengaku daerah tersulit itu adalah Teluk Lanus. Sebab bakau yang terbakar ini biasanya menjadi arang. Untuk memadamkan lahan seluas 6 hektar saja memakan waktu hingga 8 hari.

“Kita berharap asap tipis yang terlihat hari ini tidak lagi muncul besok dan seterusnya. Seperti keinginan semua orang, langit harus tetap biru,” kata Ichsan lagi.