‘Clickbait’ Bukan Praktek Jurnalisme Karena Membohongi Pembaca, Ini Bedanya dengan ‘Clickable’

banner 468x60

PEKANBARU –Redaktur Pelaksana Kompas.com, Heru Margianto mengungkapkan perbedaan antara istilah clickbait dan clickable yang kadang masih dianggap sama oleh sebagian orang.

Dikatakan Heru, dalam praktek jurnalisme, clickable merupakan hal yang mesti dilakukan, terutama media online dalam mencari klik dari calon pembaca. Klik merupakan bukti keberhasilan seorang pembuat berita karena punya daya tarik klik.

banner 400x400

Sementara, clickbait merupakan praktik yang semestinya dihindari oleh kalangan jurnalis, karena ada pembohongan didalamnya. Ini tentunya bertentangan dengan salah satu elemen jurnalisme Bill Kovach, yakni kepercayaan atau truth.

“clickable bukan clickbait, media online yang benar-benar menjalankan fungsi jurnalisme tidak boleh clickbait, tapi harus clickable supaya pesannya bisa sampai,” kata Heru dalam Webinar bertema ‘Jaga Berita, Jaga Berita dan Jaga Indonesia’ yang ditaja oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kamis (27/5/2021).

Dalam persepektif ilmu komunikasi, jika media bisa membuat judul berita clickable, menurut Heru, itu merupakan keberhasilan media sebagai komunikator. Tapi, kalau media membuat judul berita clickbait, itu artinya media membohongi publik.

Salah satu teknik membuat judul clickable, terangnya, adalah mengacu kepada ‘keyword’ yang paling dicari dalam mesin pencarian. Misalnya, dalam media cetak wartawan boleh saja membuat nama ‘Presiden Yudhoyono’, namun di media online harus membuat keyword ‘Presiden SBY’ karena ini lebih ‘nyangkut’ di mesin pencari.

Sedangkan clickbait merupakan pembohongan yang membuat amplifikasi hoax. Dia mencontohkan salah satu judul yang clickbait yang kerap muncul di media sosial.

“Misalnya ada artikel judulnya ‘5 Pesan Anang ke Aurel, Nomor 3 Bikin Nangis,’ tapi ternyata gak ada yang nangis. Itu pembohongan, dan clickable inilah yang nantinya membuat amplifikasi hoax dalam media sosial,” tuturnya.

banner 970x250