Faktor Sejarah Keluarga, Penunjukan Rahul Jadi Ketua Gerindra Pekanbaru Diprediksi Akan Timbulkan Gejolak Batin Kader

banner 468x60

PEKANBARU – Pengamat Politik Riau, Dr Tito Handoko, S IP, M Si, menilai penunjukkan Muhammad Rahul sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Pekanbaru akan memberikan gejolak batin kepada kader Gerindra.

Pasalnya, menurut Dosen Fisip Unri ini, sosok Rahul tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah keluarganya. Dimana, Rahul merupakan putra dari Anggota DPR RI dari Demokrat, Muhammad Nasir.

banner 400x400

Paman Rahul atau adik dari ayahnya adalah Muhammad Nazaruddin yang merupakan Mantan Anggota DPR RI dari Demokrat. Nazaruddin bahkan pernah menjadi Bendahara Umum Demokrat sebelum akhirnya menjadi terdakwa kasus korupsi.

Tak sampai disitu, saudara ayahnya, Rita Zahara juga pernah menjadi Anggota DPRD Riau dari Demokrat, kemudian berpindah ke Gerindra dan berhasil duduk sebagai Anggota DPR RI periode 2014-2019.

Rita Zahara sendiri tidak menyelesaikan tugasnya di DPR RI karena memutuskan pindah ke Nasdem. Ketika pindah ke Nasdem, Rita Zahara gagal duduk di DPR RI.

“Jadi, dari faktor ‘Family Story’, kader Gerindra pasti merasakan gejolak batin, karena Rahul dibesarkan dari partai yang berbeda,” ujarnya, Jumat (23/7/2021).

Diakui Tito, penunjukan Rahim merupakan sebuah kejutan, sebab Rahul tidak pernah dijagokan sebelumnya, dan Rahul juga tidak pernah dimunculkan dalam percaturan Partai Gerindra di Pekanbaru.

Namun, Partai Gerindra memiliki mekanisme sendiri dalam penunjukan pimpinan di tingkat Cabang maupun Daerah dan ini memang mendistorsi prinsip demokrasi lokal.

Sebetulnya, gejala ini tidak hanya di Gerindra tapi juga partai-partai lain yang penunjukan kepemimpinan di tingkat lokal di tentukan oleh struktur yang lebih tinggi di atasnya atau memang oleh DPP secara mutlak.

“Bangunan prinsip demokrasi lokal memang tampak rapuh, pilihannya sederhana saja stabilitas atau distabilitas pengelolaan partai. Ujung-ujungnya adalah legitimasi DPP yang digunakan untuk memotong mata rantai konflik di tingkat lokal,” tuturnya.

Ditetapkannya Rahul sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Pekanbaru, lanjutnya, sekaligus menjawab tesis resentralisasi yang dimulai dari tubuh partai politik. Bagaimanapun, legitimasi yang dibangun tetap akan menimbulkan riak mengingat Rahul tergolong ‘anak kemaren sore’ di Gerindra.

“Masih banyak senior yang telah berdarah-darah membesarkan Gerindra di Kota Pekanbaru. Tantangan melakukan konsolidasi antara senior dan junior akan dihadapi oleh Rahul dan tentu saja dalam perjalannya akan dibuktikan dengan tercapai atau tidaknya target pemenangan Partai Gerindra pada 2024,” terangnyA

Pola-pola tangan besi DPP, lanjutnya, mengingatkan publik pada pengelolaan Partai Politik masa Orde Baru yang semua serba ditentukan oleh pusat. Dan masyarakat saat ini nampaknya juga sudah tidak terlalu peduli dengan dinamika di tubuh partai politik.

Sebab, dalam beberapa kali Pemilu, masyarakat merasa tidak punya untung atau rugi selain even lima tahunan. Ini tentunya menjadi preseden buruk dalam bangunan demokrasi lokal yang mengharapkan tingginya tingkat partisipasi publik.

banner 970x250