Inforiau.ID, PELALAWAN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, terus meluas.
Memasuki hari ketiga penanganan, Selasa (25/8/2026), luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 323 hektare.
Angka tersebut merupakan akumulasi dari luas kawasan yang sebelumnya diperkirakan mencapai 253,23 hektare, ditambah perkembangan luasan terbakar sekitar 70 hektare hingga Selasa siang.
Kebakaran masih belum sepenuhnya terkendali karena sejumlah titik masih menunjukkan kepala api dan kepulan asap tebal.
Kondisi tersebut membuat penanganan Karhutla di kawasan gambut terus diperkuat.
Sebanyak 171 personel gabungan dikerahkan melalui jalur darat, sementara satu unit helikopter water bombing BNPB diturunkan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses petugas.
Operasi pemadaman dan pendinginan dipimpin Wakapolres Pelalawan Kompol Asep Rahmad, S.H., S.I.K., M.M., didampingi Kapolsek Pangkalan Kerinci Kompol Shilton, S.I.K., M.H., serta Kepala DPMPTSP Kabupaten Pelalawan Budi Surlani, S.T.
Kasi Humas Polres Pelalawan AKP Thomas Bernandes mengatakan, kondisi kebakaran masih menjadi perhatian serius karena api bergerak di kawasan gambut yang ditumbuhi sawit dan semak belukar.
Berdasarkan pemantauan lapangan dan Dashboard Lancang Kuning (DLK), kepala api terpantau bergerak ke arah timur dan selatan.
Tiupan angin yang cukup kencang turut mempercepat penyebaran api.
“Pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan. Di beberapa titik masih ditemukan kepala api dan asap tebal,” kata Thomas.
Dari 171 personel gabungan yang dikerahkan, sebanyak 23 personel berasal dari Polri, dua personel TNI, delapan personel BPBD, 15 personel Damkar Kabupaten Pelalawan, serta tim pemadam dari perusahaan dan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Rantau Baru.
Sejumlah perusahaan juga ikut memperkuat upaya penanganan Karhutla.
Di antaranya Fire Fighter PT RAPP, RPK PT PMBN, PT Agrita Sari Prima, Asian Agri Group, PT PSJ Group, PT SBP, PT Adei, PT JPSK, PT EMP dan PT Takisama.
Petugas turut mengerahkan empat unit alat berat, mesin pemadam, puluhan rol selang serta satu unit drone untuk memantau perkembangan api dari udara.
Kondisi lahan gambut yang sulit dijangkau menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.
Keterbatasan sumber air akibat musim kemarau juga menyulitkan petugas, sementara api yang berada di dalam lapisan gambut berpotensi kembali muncul meski permukaan lahan terlihat telah padam.
Karena itu, petugas tidak hanya melakukan pemadaman terhadap kepala api, tetapi juga melaksanakan pendinginan secara berulang.
Sekat juga dibuat menggunakan alat berat untuk menghambat pergerakan api agar tidak semakin meluas.
Sementara itu, kepolisian masih melakukan pengumpulan bahan keterangan dan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sumber api sekaligus mengetahui ada atau tidaknya pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya Karhutla.
Dukungan satu unit helikopter water bombing BNPB menjadi tambahan kekuatan dalam operasi pemadaman.
Helikopter tersebut difokuskan untuk menjatuhkan air ke titik-titik api yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Hingga Selasa menjelang sore, upaya pemadaman dan pendinginan masih berlangsung.
Dengan luas kebakaran yang diperkirakan mencapai sekitar 323 hektare, petugas gabungan terus berupaya mengendalikan api agar tidak kembali meluas ke kawasan lainnya.
Lokasi Karhutla berada sekitar 15 kilometer dari Mapolsek Pangkalan Kerinci dan ditempuh melalui jalur darat.










