PEKANBARU – Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Golkar Riau, Zulfan Heri angkat bicara terkait banyaknya kekalahan yang dialami oleh Golkar dalam sembilan Pilkada Serentak 2020 ini, dimana hanya ada dua daerah yang dimenangkan oleh Golkar.
Dua daerah tersebut adalah Kuansing, dimana Golkar mengusung Andi Putra – Suhardiman Amby dan di Indragiri Hulu yang mengusung Rezyta Meylani – Junaedi Rachmat.
“Untuk dua daerah tersebut kami ucapkan selamat dan terimakasih. Untuk daerah yang kalah, kami dari Bapilu Golkar sudah menemukan faktor-faktor yang menjadi dasar kekalahan ini, dan ini akan menjadi evaluasi kita kedepannya,” kata Zulfan kepada GoRiau.com, Jumat (11/12/2020).
Dalam hal ini, Zulfan melihat ada 5 faktor yang menjadi permasalahan dalam proses pemenangan Golkar, dimana keempat faktor ini berkaitan dengan mesin Golkar dan juga Paslon yang bersangkutan.
Faktor pertama, jelas Mantan Anggota DPRD Riau ini, ada tiga daerah di Pilkada Riau yang terjadi perpecahan suara dalam internal Golkar. Pasalnya, tiga daerah ini ada tiga orang Golkar yang maju dari partai lain.
Akibatnya, suara Golkar di akar rumput menjadi terpecah dan membuat proses pemenangan Golkar menjadi agak terhambat.
Sebut saja, seperti Nasarudin yang memecah suara Adi Sukemi di Pelalawan, Afrizal Sintong yang memecah suara Fuad Ahmad di Rohil, dan Kasmarni yang memecah suara Indra Gunawan Eet.
Ini diperparah dengan konflik personal menahun yang terjadi dalam tubuh Golkar, terutama di tiga daerah tersebut. Konflik ini, kata Zulfan, sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum Pilkada. Namun, kembali mencuat di momentum Pilkada ini.
Faktor kedua, jelasnya, kesiapan logistik Paslon yang diusung Golkar juga menjadi faktor penghambat penggerakan tim akar rumput. Ini sangat dirasakan Zulfan saat berkunjung ke daerah-daerah dalam rangka monitoring.
“Logistik Paslon mulai atribut, biaya pemenangan, dan itu amat terasa. Itu membuat banyak pengurus partai maupun tim yang lompat pagar. Itu saya katakan hampir merata di semua Paslon,” tambahnya.
Faktor ketiga, para Paslon juga kebanyakan tidak bekerja menggunakan lembaga survey, padahal diawal rekrutmen, Golkar sudah memakai metode survey. Namun, dalam pertarungan di Pilkada, Paslon cenderung enggan menggunakan lembaga survey.
Padahal survey ini, lanjutnya, berkaitan dengan penyusunan zona peta pemenangan. Seharusnya, dari awal para Paslon ini sudah diikat untuk memakai jasa lembaga survey tertentu, sehingga Bapilu lebih mudah melakukan kontrol.
“Saya melihat beragam persepsi Paslon terhadap dunia survey ini, ada yang peduli ada yang tidak. Kerja politik buta jadinya kalau tidak ada survey. Jadi mereka bergerak sporadis saja, makanya titik-titik kampanye tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Untuk Dumai, Zulfan mengakui Paslon Eko Suharjo – Syarifah sangat berpatokan pada rekomendasi lembaga survey, salah satunya kampanye menggunakan ‘Kartu Dumai Gemilang’. Makanya, survey mereka terus meningkat dalam setiap periodenya.
Sayangnya, peta politik berubah seiring meninggalnya Calon Walikota Dumai, Eko Suharjo hanya beberapa hari sebelum masa pencoblosan datang. Ini membuat masyarakat mengalihkan dukungannya.
Faktor keempat, Zulfan melihat konsolidasi internal Golkar kurang maksimal, terutama di tingkat kecamatan hingga desa/kelurahan. Makanya, ini akan PR bagi DPD II untuk mensolidkan kembali kepengurusan di akar rumput, supaya Golkar bisa lebih solid dalam agenda politik selanjutnya.
“Saya targetkan, 2021 konsolidasi sudah sampai di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan. DPD II harus menjadikan ini perhatian, baik yang sudah mengikuti Pilkada maupun yang dalam waktu dekat akan ikut Pilkada seperti Pekanbaru dan Kampar,” harapnya.
Faktor kelima, menurut Zulfan adalah soal komunikasi, dimana antara pasangan calon dengan partai pengusung harmonisasi tidak berjalan dengan baik, sehingga tidak ada kesamaan sikap pandangan politik antara pasangan calon dengan partai maupun tim.
Lebih jauh, Zulfan menegaskan, kekalahan ini jangan semata-mata diarahkan kepada Ketua DPD I Golkar Riau yang juga Gubernur Riau, Syamsuar. Karena, kerja politik bukan bertumpu pada satu orang, melainkan tim.
“Bapilu Golkar Riau mengucapkan terima kasih kepada para pengamat, tokoh, dan banyak pihak atas kritik yang disampaikan termasuk kritik yang pedas terkait hasil ini,” tuturnya.
Syamsuar, katanya, telah bekerja maksimal meskipun baru menjabat 10 bulan sebagai ketua DPD I. Apalagi saat ini konsentrasi Ketua DPD I ini terpecah di tengah pandemi Covid-19.
Kritik yang disampaikan kepada Golkar tersebut akan tetap menjadi masukan yang berharga bagi partai dalam menghadapi event-event politik di masa yang akan datang.
“Ini bukti semua mencintai Golkar,” pungkasnya.










