Banjir Informasi di Medsos Hingga Sebabkan ‘Sindrom Cyberchondria’, Peran Media Mainstream Sangat Vital

banner 468x60

PEKANBARU – Redaktur Pelaksana Infopublik.id, Dwitri Waluyo mengharapkan media-media mainstream untuk bisa menjadi penerang ditengah badai informasi yang ditengah masyarakat saat ini.

Hal tersebut disampaikannya dalam Webinar Jaga Berita, Jaga Cinta dan Jaga Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Infopublik.id merupakan portal informasi dibawah naungan Kemenkominfo.

banner 400x400

“Sekjend WHO Tedrom Adhanom Ghebreyesus menyampaikan bahwa musuh kita di masa pandemi bukan hanya virus saja, tapi juga informasi yang sedemikian menjadi musuh kita. Itu namanya infodemik. Infodemik kemudian menjadi sindrom cyberchondria,” katanya, Kamis (27/5/2021).

Sindrom tersebut, jelas Dwitri, pernah dia alami langsung saat sedang menjadi penyintas Covid-19. Saat itu, dia mendapatkan begitu banyak informasi soal Covid-19 terutama soal obat-obatan herbal, baik informasi yang dicari maupun yang diberikan orang lain.

“Pada akhirnya terjadi kebingungan, apalagi kalau infonya dari media sosial. Kalau informasinya dari media adik-adik semua, ya alhamdulillah, karena saya yakin informasinya terpercaya dan sudah melalui prosedural jurnalistik. Ada pencarian data dan fakta serta verifikasi. Beda dengan media sosial,” terangnya kepada wartawan di Pekanbaru.

Dari data Kemenkominfo sendiri, sambungnya, sejak pandemi Covid-19 pada 23 Januari 2020 sampai 24 Mei 2021 ada sekitar 1.606 informasi hoax yang tersebar dan disebar dalam 3.475 konten, 3.056 diantaranya sudah di takedown oleh kementerian sesuai laporan masyarakat. Sedangkan 113 sudah masuk ke ranah hukum.

“Bayangkan, ada 378 juta akun media sosial di Indonesia yang berpotensi menerima informasi itu. Tidak semua tertangani Kominfo. Dan setiap hari berkembang terus, ini mewarnai fenomena infodemik,” tuturnya.

Masyarakat Indonesia menurut Dwitri, saat ini sudah mulai cerdas dalam menafsirkan informasi. Mereka tidak akan percaya sebelum informasi itu dikonfirmasi oleh media mainstream yang berkredibilitas tinggi.

“Pada akhirnya, media mainstream tetap jadi rujukan utama masyarakat, info boleh beredar, tapi kalau mau meyakinkan diri info itu benar, mau tidak mau masyarakat akan memastikan di media mainstream. Itu peran teman-teman semua. Tinggal teman-teman mengemas dengan baik,” tutupnya.

banner 970x250