PEKANBARU – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3AM) Kota Pekanbaru mencatat kekerasan pada anak, salah satunya dipicu faktor ekonomi. Dimana, orangtua melampiaskan kekesalan dan frustasinya pada anak.
Sepanjang Januari hingga Juni 2021, tercatat ada 59 kasus kekerasan terhadap anak di Kota pekanbaru, Provinsi Riau. Banyak anak jadi sasaran orangtua yang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Orangtua stres dalam kondisi ekonomi seperti ini, lalu melampiaskannya ke anak,” ujar Kepala DP3AM Kota Pekanbaru, Chairani.
Menurutnya, ada korban yang mengaku menjadi sasaran kekerasan lantaran orangtuanya terhimpit ekonomi. Ada pula anak-anak yang menjadi kurang perhatian karena kedua orangtuanya bekerja seharian.
Ia menjelaskan, hal-hal tersebut membuat anak mengalami tekanan psikis. Apalagi, kekerasan pada anak juga bisa mengarah pada kekerasan seksual.
“Kita sangat sayangkan, ada orangtua tegas merudapaksa anak kandungnya. Padahal orangtua mestinya menjaga anak-anak,” jelasnya.
Chairani mengajak anak-anak untuk tidak takut bersuara. Mereka bisa bersuara lewat wadah suara anak terkait keresahan mereka.










