oleh

5 Penyebab Maraknya Geng Motor hingga Berani Menjarah Distro di Depok

JAKARTA – Fenomena geng motor yang belakangan ini kembali terjadi dan meresahkan masyarakat sungguh memprihatinkan. Di mana, puluhan pemuda yang tergabung dengan geng motor Jembatan Mampang (Jepang) nekat menjarah sebuah distro atau toko pakaian di Depok, Jawa Barat.

Menurut Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar, setidaknya ada lima faktor yang membuat geng motor sulit diatasi. Pertama, kurangnya pendidikan sehingga sulit mencari pekerjaan.

banner 300x250

Sementara untuk menjadi pelaku usaha juga tidak mampu karena minimnya pengetahuan. Sehingga mereka memilih jalan alternatif dengan cara bergabung dengan teman-temannya dalam sebuah kelompok.

“Kedua, kurang perhatian dari orangtua, sejatinya orangtua mereka bukannya tidak memberi perhatian pada anak, tetapi tidak tahu caranya dan tidak punya kemampuan ekonomi untuk menyekolahkan mereka di perguruan tinggi,” kata Musni saat berbincang-bincang dengan Okezone, Rabu (27/12/2017).

(Baca Juga: Sewa Kontrakan, Geng ‘Jepang’ Mengaku ke Pak RT Buat Pengajian)

Ketiga, pengangguran atau tidak punya kesibukan sehingga memicu hasrat untuk selalu berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Perkumpulan atau gerombolan orang-orang pengangguran berpotensi akan melakukan kriminal seperti yang dilakukan geng motor di Depok.

 

Keempat, kurang perhatian dari lingkungan setempat. Masyarakat membenci dan menjauhi mereka akibat ulahnya yang meresahkan, justru masyarakat merasa terganggu dengan adanya gerombolan geng motor tersebut.

“Kelima, kurang perhatian pemerintah, sejak Orde Baru berkuasa 32 tahun lamanya dan Orde Reformasi 19 tahun, fokus utama pembangunan adalah penbangunan fisik. Pembangunan manusia sangat kurang, sehingga lahir geng motor,” tuturnya.

(Baca Juga: Ini Deretan Dosa Geng ‘Jepang’ Motor di Depok)

Dampak dari model pembangunan fisik tersebut, masyarakat cenderung menjadi hedonis dan menghambakan materi. Masyarakat berubah perilakunya, menghalalkan segala cara demi mendapatkan materi tanpa peduli halal atau haram.

“Oleh karena itu, fenomena geng motor jangan hanya dilihat dari perilaku mereka yang melakukan penjarahan toko, tetapi sejatinya adalah kegagalan pembangunan yang mengutamakan fisik ketimbang pembangunan karakter manusia,” pungkasnya.

(Ari)