oleh

Sebelum Membunuh 1 Keluarga di Bekasi, Haris Simamora Pergi ke Gereja

BEKASI – Opik (30), pedagang warung mie rebus yang berlokasi tidak jauh dari rumah korban pembunuhan di Bojong Nangka, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengaku sempat melihat pelaku Haris Simamora (25) di lokasi, kurang lebih sepekan sebelum terjadinya pembunuhan.

“Iya pernah lihat pria itu, waktu itu hari Minggu, saya lagi beli gas. Pria itu pakai sepatu, pokoknya semua rapi. Semua keluarga pak Nainggolan ada di situ juga,” kata Opik di warungnya, Jumat (16/11/2018).

banner 300x250

Sembari berbelanja gas, ia pun sempat menegur Haris yang kala itu hendak berangkat ibadah.

“Saya sempat tanya, kemana om. Terus dijawab mau ibadah ke gereja,” ujarnya.

Setelah pertemuan itu, Opik tidak pernah lagi melihat pelaku di sekitar kediaman korban. “Sudah enggak pernah ketemu lagi, cuma sekali itu doang,” akunya.

 (Baca juga: Bunuh 1 Keluarga di Bekasi, Haris Simamora Terancam Hukuman Mati)

jaris

Sementara pertemuan terakhir Opik dengan korban, terjadi tepat di malam sebelum peristiwa tragis itu berlangsung. Saat itu, Senin 12 November 2018 malam, ia membeli gas di warung kelontong milik korban yang hampir tutup.

“Jadi pas Senin malam itu saya beli gas. Rolling door nya sudah tertutup seperempat, saya pun buru-buru beli. Yang ngelayanin waktu itu pak Nainggolan,” ujarnya.

Opik sendiri tak menyangka malam itu bakal menjadi malam terakhir yang dilewatkan korban sekeluarga. Sebagai pelanggan toko kelontong, Opik menilai korban adalah sosok yang baik dan selalu melayani pembeli dengan ramah.

“Pak Nainggolan cukup baik ya. Kalau melayani orang di warungnya juga ramah,” akunya.

 (Baca juga: Bunuh 1 Keluarga di Bekasi, Haris Simamora Terancam Hukuman Mati)

bunuh

Sementara itu, Mastaufik, petugas keamanan di Sekolah Nasional Satu (Nasa) yang berjarak sekitar 10 meter dari kediaman korban, mengaku kenal dengan sosok Haris. asalnya, sebelum dikelola oleh korban, pelaku terlebih dulu dipercaya mengelola kontrakan dan toko kelontong milik kakak korban tersebut.

“Jadi sebelum almarhum, memang pelaku duluan yang kelola kontrakan sama warungnya. Pelaku juga sempat tinggal di rumah korban waktu itu,” ujarnya.

Namun, kata dia, pelaku memiliki sikap yang bertolak belakang dengan korban. Jika korban suka bersosialisasi dengan para warga setempat, sebaliknya pelaku justru cenderung tertutup dan lebih banyak menggunakan waktu di dalam rumah.

“Pelaku itu sosialisasinya kurang, paling menyapa kalau sekedar aja. Nggak kaya almarhum, baik, ramah sama warga, pokoknya beda lah” ungkapnya.

Haris Simamora, tersangka pembunuhan satu keluarga Diperum Nainggolan, ditangkap petugas di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, pada Rabu, 14 November 2018, sekira pukul 22.00 WIB. Penangkapan dilakukan setelah polisi menemukan mobil Nissan X-Trail warna silver milik korban di kawasan Cikarang.

Di hadapan petugas, pemuda yang masih memiliki ikatan keluarga dengan korban itu, mengakui perbuatannya menghabisi nyawa keempat korban.

“Status HS sudah tersangka sejak tadi malam,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

 

Pelaku membunuh Diperum Nainggolan beserta istri Maya br Ambarita, dengan menggunakan linggis. Sementara kedua anak korban, Sarah dan Arya dibekap hingga kehabisan napas.

“Pelaku membunuh dengan menggunakan linggis,” ungkap Argo.

Dari informasi yang dihimpun, polisi masih mengejar pelaku lain yang diduga ikut terlibat pada kasus pembunuhan satu keluarga tersebut.

(wal)