oleh

Buaya Serang Anak-anak di Rohul, BBKSDA Riau: Memang Habitatnya di Sana

PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sangat perihatin dengan adanya serangan buaya yang terjadi belum lama ini terhadap seorang anak 7 tahun di Dusun I Harapan  Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Kamis (15/11/2018) kemarin.

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono mengatakan saat dikonfirmasi GoRiau.com, bahwa memang habitat buaya tidak jauh dari lokasi serangan buaya terhadap anak-anak tersebut. Habitat hewan liar dan buas, saat ini sudah semakin sempit dengan semakin berkembangnya populasi manusia.

banner 300x250

“Bagaimana pun juga, hewan liar ini merupakan hewan yang dilindungi secara Undang-Undang. Untuk itu, mari sama-sama untuk tetao waspada,” kata Suharyono, Jumat (16/11/2018).

Suharyono mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menanggani konflik antara warga dengan satwa liar. Untuk penanganan konflik satwa liar mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar.

“Kita juga aktif mensosialisasikan adanya Quick Respon untuk percepatan penyampaian informasi di nomor telpon 081374742981. Dimana tim terdekat nantinya, segera turun ke lokasi konflik apabila terjadi konflik, serta melakukan sosialisasi dan pendampingan apabila diperlukan,” ujarnya.

Masih dikatakan Suharyono, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait, aparat penegak hukum, pemegang konsesi terkait, dan masyarakat dimana terjadi konflik. BBKSDA Riau juga melakukan pemasangan plank/papan informasi untuk pemberitahuan, bahwa wilayah tersebut ada hewab liar.

“Setelah turun ke lokasi konflik dan menemukan satwa liarnya, kita melakukan penggiringan satwa ke habitatnya. Melakukan pemasangan box trap, kamera trap dan evakuasi terhadap satwa yang menimbulkan konflik apabila sangat mendesak. Dan melakukan patroli dan pembersihan jerat babi para pemburu,” ungkapnya.

Terjadinya konflik antara manusia dengan satwa liar, dijelaskan Suharyono lebih dikarenakan habitat satwa liar itu menjadi lebih sempit. Bisa disebabkan karena adanya pembukaan lahan atau perubahan fungsi hutan, sehingga areal jelajah pakannya pun menyempit 

“Ditambah perburuan terhadap pakan satwa liar yang makin marak, sehingga terkadang satwa itu keluar habitatnya untuk mencari makan. Contohnya saja banyak pemburu memasang jerat babi,” jelasnya.