oleh

Puskesmas Jauh dan Jalan Sulit Dilalui, Banyak Wanita Jorong Galugua Melahirkan di Pinggir Jalan

PAYAKUMBUH – Banyak wanita warga Jorong Galugua, Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, terpaksa melahirkan di pinggir jalan karena jauhnya Puskesmas dari jorong tersebut. Selain jauh, jalan menuju ke Puskesmas juga sulit dilalui kendaraan.

“Jalan dari sini ke lokasi Puskesmas sangat sulit. Hanya bisa dilewati mobil berpenggerak 4×4. Ketika hujan deras sangat susah untuk dilalui,” kata Yunita Sari, salah seorang bidan di Puskesmas Pembantu Nagari Galugua, sepeti dikutip dari Merdeka.com yang melansir dari Antara, Jumat (14/2).

Jalan akses ke Jorong Galugua tidak hanya buruk, namun medannya juga sulit. Pada sisi kiri dan kanan jalan hanya terlihat perbukitan dengan pepohonan rimbun dan tebing yang curam.

“Saya sendiri pada tiga tahun lalu juga menjalani ini, ketika saya harus melahirkan anak pertama. Karena memang waktu tempuh ke puskesmas itu lama dan jalan yang sangat susah dilewati saya harus melahirkan anak di jalan,” cerita Yunita yang mengaku telah mengabdi semenjak 2016 di jorong tersebut.

Bahkan, kalau pun sampai ke Puskesmas induk yang berada di Nagari Sialang, tidak jarang harus dirujuk ke rumah sakit yang lama tempuhnya lebih lima jam dari Puskesmas induk tersebut.

“Dari tempat kami ke Puskesmas induk sekitar dua sampai tiga jam. Kalau tidak bisa ditangani di Puskesmas induk kami harus merujuk ke rumah sakit umum yang berada di Kota Payakumbuh. Bisa saja, kami pergi pagi, sampainya sudah sore atau senja,” katanya.

Puskesmas induk tersebut juga belum melayani rawat inap. Ia berharap agar Puskesmas dan Puskesmas pembantu bisa dilengkapi dengan peralatan yang lebih baik.

Harga Sembako Tinggi

Sementara Wali Nagari Galugua Zulfahmi mengatakan banyak masalah sosial yang muncul akibat sulitnya akses jalan ke nagari yang berpenduduk 3.500-an jiwa itu.

“Harga seluruh sembako di sini dua sampai tiga kali lipat dari harga biasa. Pupuk juga seperti itu, harganya kalau sudah sampai di sini tinggi sekali,” katanya.

Tidak hanya itu, tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Nagari Galugua jauh dari kata cukup. Khusus untuk tenaga kesehatan hanya ada satu bidan PNS yang menangani empat jorong yang ada di Nagari Galugua.

Sehingga untuk menangani masyarakat bidan tersebut harus menginap berhari-hari di setiap jorong dan pergi ke jorong lainnya setelah itu.

“Bahkan banyak terjadi, PNS yang diangkat tidak bertahan lama di sini. Hanya beberapa bulan atau beberapa tahun mereka pergi. Memang hanya untuk mencari status PNS saja. Untuk itu kami meminta untuk pengangkatan diutamakan anak nagari Galugua,” katanya.

Di Nagari Galugua sampai saat ini juga belum memiliki jaringan telepon seluler. Sehingga untuk berkomunikasi masyarakat harus pergi ke titik yang memakan waktu satu jam.

“Itu pun hanya untuk bertelepon, kalau internet masyarakat harus menempuh waktu dua sampai tiga jam. Ini salah satu kendala bagi masyarakat daerah sini,” ujarnya.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Pemerintah Provinsi Sumbar, dan Pemerintah pusat memberikan perhatian lebih ke Nagari Galugua.

Mulai Pertengahan Tahun

Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan menyebutkan pembangunan jalan ke Galugua kemungkinan akan dimulai pertengahan tahun 2020.

“Insya Allah, tahun 2020 ini akan ada lagi pembangunan akses jalan lagi di Nagari Galugua. Dananya sudah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sekitar Rp3 miliar lebih. Kita tunggu dulu prosedurnya. Mulai dari pembukaan lelang oleh Pemprov hingga selesai,” katanya.

Ia meminta masyarakat Galugua untuk ikut mengawasi dan mendukung pembangunan ini.

Ditambahkannya, tahun 2020 ini provider swasta juga akan membangun fasilitas jaringan seluler dan internet. Dari 19 titik lokasi jaringan baru yang diberikan Kementerian Kominfo di Limapuluh Kota, beberapa titik akan dipasang di Galugua.