oleh

Pasien Positif Virus Corona yang Kabur dari RS Persahabatan Kini Diisolasi di RS Polri

JAKARTA – Seorang pasien positif terinfeksi virus corona kabur dari RSUP Persahabatan Jakarta, pekan lalu. Pasien tersebut berhasil kabur dibantu keluarganya.

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Utama RS Persahabatan, Rita Rogayah mengatakan, pasien positif Covid-19 yang sempat kabur itu sudah diisolasi kembali, namun bukan di RS Persahabatan, melainkan di RS Polri Kramat Jati.

banner 300x250

Rita mengaku, RS Persahabatan merujuknya ke RS Polri, karena menganggap pasien bersangkutan memerlukan pengawasan khusus. Pasien itu dirujuk ke RS Polri pada Jumat (13/3) malam.

“Pasien ini harus ada pengawasan khusus dan kami tidak mampu karena kami punya pasien banyak. Pasien ini merasa dia sehat, maka kami koordinasi dengan Diskes DKI untuk dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati pada jam 10 malam dijemput Diskes dibantu oleh polisi,” terang Rita di RSUP Persahabatan, Sabtu (14/3/2020).

Lanjut Rita, pasien tersebut kabur karena merasa dirinya dalam keadaan sehat.

Menurut Rita, karena tidak adanya edukasi terkait virus corona, membuat pasien itu bertahan dengan pendiriannya bahwa dia tidak terinfeksi corona.

“Dia mengaku keluhannya enggak banyak kok, masih bisa aktivitas,” ucap Rita.

Kabur Dibantu Keluarga

Juru Bicara Tim Dokter Pasien Covid-19 RSUP Persahabatan, Erlina Burhan mengatakan, pasien yang kabur tersebut berjenis kelamin perempuan, warga DKI. Dia bekerja sebagai pramusaji di salah satu restoran.

Erlina mengatakan, pasien positif Covid-19 itu kabur dibantu keluarganya.

“(Pasien) tidak diizinkan (keluar ruang isolasi). Jadi kan ada pintu masuk, diam-diam dia keluar. Sudah ditunggu oleh keluarga. Kita tahu, setelah dia keluar,” kata Erlina, Jumat kemarin.

“Ruang isolasi bukan kayak penjara yang digembok yah. Ada juga tempat masuknya. Karena kan pasien harus masuk dari depan, nah begitu masuk petugas meleng, dia (pasien) keluar dan sudah ada keluarga,” tambah dia.

Takut Tertular

Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman DKI Jakarta Suharti mengatakan, pasien tersebut mengaku takut tertular pasien lainnya yang juga positif Covid-19.

Dia khawatir tertular karena dirinya merasa tidak mengalami gejala terjangkit virus corona.

Saat itu, pasien tersebut ketika itu belum dipastikan positif corona. Sementara dia berada di ruangan isolasi bersama pasien lain.

“Menurut dia, isolasi di RS Persahabatan lebih bahaya, lebih mungkin tertular karena satu ruangan untuk beberapa orang,” ujar Suharti dalam rapat pembahasan kesiapan penanganan Covid-19 pada 10 Maret.

Suharti berujar, pasien tersebut meminta bukti yang menyatakan dirinya memang positif terjangkit Covid-19. Sebab, pasien yang merupakan pelayan di salah satu tempat penyebaran virus corona itu tidak mengalami gejala terjangkit Covid-19.

“Dia tidak mau (diisolasi) dan minta bukti bahwa dia positif (Covid-19), baru dia akan mau diisolasi,” kata Suharti.

Sementara itu, Erlina Burhan memastikan bahwa kecil kemungkinan pasien tertular meski berada dalam satu ruangan isolasi.

“Ruangan kami bertekanan negatif jadi untuk transmisi itu sangat-sangat kecil kemungkinan dan juga untuk pengendalian dan pencegahan infeksi itu disarankan untuk tempat tidur berjarak minimal dua meter dan itu dilakukan,” ujar Erlina.

Diisolasi Kembali

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan, pasien yang sempat kabur itu saat ini sudah kembali menjalani perawatan.

Ia mengaku heran mengapa informasi soal satu pasien ini diungkap pihak rumah sakit. Pasalnya, kata dia, kejadian yang sebenarnya adalah pasien tidak kabur.

“Makanya kenapa kok dimunculkan lagi, apakah biar heboh? Dia tidak kabur. Dia ini single parent, ya (saat itu) mengurus anaknya dululah,” tuturnya.

Saat itu, ucap dia, hasil pemeriksaan laboratorium dari pasien tadi belum keluar. Dengan demikian, pasien ketika itu belum tahu mengidap Covid-19.

“Waktu itu menunggu hasil belum ada. Jadi urus keluarga dulu. Keesokannya, hasil laboratorium sudah ada. Jadi didatangi lagi (untuk dievakuasi),” ucap Yurianto.

Usai kejadian ini, pihak Dinas Kesehatan Jakarta Timur lantas melakukan penelusuran kemana sana dan dengan siapa saja pasien tersebut melakukan kontak.