SIAK – Bupati Siak periode 2001-2011 Arwin AS masih turun gunung untuk membantu Alfedri-Husni meraup suara untuk Pilkada Siak 2020. Meski sudah ringkih di makan usia, sorot matanya masih tampak bersinar kala mendampingi Alfedri berkampanye di kampung Perawang Barat, kecamatan Tualang, Senin (9/11/2020) sore.
Kampanye dialogis Alfedri itu berlangsung di rumah Joni Erwin, di jalan Manggis Km 6 Perawang. Kegiatan sore itu tampak penuh semangat di bawah komando MC Risa Syukria. Panitia dan peserta kampanya juga menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Arwin didapuk menjadi juru kampanye. Begitu mengambil mic, Arwin langsung membayangkan kisahnya 20 tahun silam, sebagai calon bupati Siak kala itu.
“Saya teringat kejadian 20 tahun silam, masa saya menjadi calon bupati Siak. Semangat itu kembali membuncah saat ini,” kata Arwin yang disambut gemuruh tepuk tangan.
Saat kampanye itu, Arwin bercerita tentang pola kepemimpinan di kabupaten Siak dari masa ke masa. Ia menyebut, kepemimpinan di Siak adalah kepemimpinan yang tersistem dalam bingkai demokrasi.
“Saya 2 periode menjadi bupati, saya persiapkan orang-orang yang berpotensi kala itu. Orang itu adalah Syamsuar dan Alfedri,” kata dia.
Persiapan itu dilaksanakan agar pondasi pembangunan Siak sebagai daerah otonomi baru di Indonesia haruslah tersambung. Tujuannya, kemerataan pembangunan serta pembangunan yang menopang kesejahteraan dapat dicapai.
“Jadi, jangan kita memilih pemimpin yang dadakan. Jika pemimpin dadakan yang dipilih, maka program yang dibuatnya nanti juga dadakan,” kata Arwin.
Dengan penuh semangat, Arwin menyatakan bahwa kepemimpinan tersistem lebih baik dari dadakan. Namun demikian, ia juga mengajak menghormati hak demokrasi seluruh manusia.
“Tugas kita begitu, bagaimana mengkader generasi kepemimpinan di Siak ini. Bagaimana mempersiapkan orang-orang terbaik, ini perlu dijelaskan kepada masyarakat,” kata Arwin.
Ia juga membedah sosok yang dijagokannya tersebut, yakni Alfedri dan Husni Merza. Bagi Arwin, ia sudah melihat karakter dan perilaku Alfedri sejak lama. Maklum saja, Alfedri merupakan mahasiswanya kala mengajar di APDN. Selain itu, Alfedri juga ‘anak buah’ Arwin di Pemkab Siak selama 2001-2011.
“Perilaku Pak Alfedri ini sangat baik, ia cerdas, cekatan dan pekerja keras,” kata dia.
Sementara perilaku Husni juga diamatinya. Waktu Arwin bupati Siak, Husni adalah ketua KPU Siak. Baik Alfedri maupun Husni, pada awalnya menolak saat ditawari sebagai calon wakil bupati.
“Kedua orang ini rendah hati. Saya sudah lihat keduanya pemimpin potensial. Perjalanan karirnya baik. Awalnya dia menolak saat ditanya. Sama dengan pak Alfedri pertama ditawari akan menjadi wakil Syamsuar juga menolak. Kemudian saya kuatkan hingga mereka mau,” kata dia.
Kepada audiens Arwin berpesan, bagaimanapun majunya sistem demokrasi, pemimpin yang akan dipilih adalah pemimpin yang terencana. “Jangan pemimpin yang dadakan, demi kepentingan kita bersama,” kata dia.
Sementara itu, Alfedri mengatakan bahwa Arwin AS adalah gurunya dalam artian yang sebenarnya.
“Sebab beliau dosen saya di IPDN dulu. Nilai saya A terus sama beliau,” kenang Alfedri.
Dulu itu, kata Alfedri, bupati Siak Arwin memanggilnya saat dia di islamic center Siak. Kala itu Arwin dan ajudannya sedang menanam pohon.
“Saya kaget, ada apa Pak Arwin memanggil. Rupanya beliau meminta saya jadi wakil bupati. akhirnya saya jawab insyaallah,” kata Alfedri.
Alfedri juga mengakui Arwin guru di kampus sekaligus guru birokrat dan guru politiknya. Program Siak Hijau yang digemakan Alfedri sejak beberapa tahun terkahir pondasinya sudah dibangun semasa Arwin.
“Kota Siak yang rindang saat ini adalah berkat pak Arwin. Pak Arwin sendiri yang menanamnya dulu,” kata dia.
Pemutihan Kredit Kebun Sawit Rakyat Adalah Program Mustahil. Informasi pemutihan kredit perkebunan sawit rakyat di Siak dibantah Bupati Siak periode 2001-2011, Arwin AS. Sebab, program tersebut adalah program produktif yang tidak boleh diberikan secara gratis.
“Ada ketentuannya. Kalau ada yang mengatakan bisa diputihkan itu tentu melanggar ketentuan dan tidak mungkin bisa dilakukan,” kata dia.
Menurut Arwin masyarakat Siak sudah cerdas. Kredit kebun sawit itu merupakan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Angsuran kredit masyarakat itu akan digunakan untuk program selanjutnya.
“Jadi ini semacam modal bergulir, kalau dihentikan berarti tak ada perguliran,” kata Arwin AS.
Ia menegaskan, jika angsuran masyarakat dihentikan maka program ekonomi bergulir tersebut juga akan berhenti.
Program tersebut dilaksanakan. Arwin kala ia menjadi bupati Siak periode 2001-2011. Ia membuat program Sawit Pemerintah Daerah Siak I dan II dengan pemberi kredit melalui BUMD PT Permodalan Siak (Persi).
“Jadi isu pemutihan itu mustahil. Nanti kalau jadi bupati dengan janji seperti itu, tidak bisa dilaksanakan tentu bohong juga jadinya. Janji begini ini janji orang tak mengerti aturan, jangan sembarangan buat janjilah,” kata Arwin.
Tapi ia pun mempersilahkan calon bupati mengumbar janji untuk mengambil hati masyarakat, namun kadang lupa aturan itu ada.
Program sawit itu berhasil di Malaysia, yang dibuat Mahathir Muhammad. Arwin juga membuat program itu di Siak.
“Program Sawit Pemda Siak ini yang pertama di Indonesia yakni membangun sawit untuk masyarakat miskin. Sekarang sudah dirasakan masyarakat Kecamatan Pusako. Jumlah penduduknya nomor 14 di Siak tapi zakatnya nomor 5,” kata dia.
Sementara itu Alfedri mengatakan, akan melanjutkan program itu untuk digulirkan kembali menjadi Sawit Pemda Siak III dan IV. Ia juga menyebut tidak ada alasan untuk memutihkan kredit sawit ini. Sebab, Alfedri sendiri yang mengurus program ini ketika menjadi kepala bagian perencanaan semasa Arwin AS Bupati Siak.
“Saya selaku Kabag program dulu, untuk penyertaan modal ini empat kali rapat dengan menteri baru selesai. Jadi ini secara aturan tak mungkin akan diputihkan,” ujarnya. (Rilis)










