PEKANBARU – Rendahnya nilai jual ubi membuat para petani harus mengalami kerugian karena penghasilan mereka tidak mampu menutupi biaya produksi, dimana nilai jual saat ini sekitar angka Rp 830/kg, sementara biaya produksi mencapai Rp 1.075/kg.
Untuk itu, sejumlah asosiasi petani ubi di Riau mengadukan nasib mereka ke Komisi II DPRD Riau, rabu kemarin (17/3/2021). supaya bisa dicarikan solusi untuk mereka agar bisa keluar dari kondisi ini.
Ketua Umum Tani dan Nelayan Indonesia (Tanindo) Provinsi Riau, Basriman saat rapat dengar pendapat menceritakan kondisi tersebut, dan berharap supaya Pemprov Riau maupun DPRD Riau bisa memfasilitasi penjualan ubi ke perusahaan-perusahaan di Riau.
Dikatakan Barisman, akibat nilai jual yang rendah ini, banyak para petani membiarkan ubi mereka membusuk di kebun.
“Kedatangan kami disini untuk menyampaikan kondisi yang dialami oleh petani. Persoalannya terkait harga jual yang tidak masuk perhitungan dan jauh dibawah harga produksi. Jangankan upah keringat, uang modal saja tidak kembali,” katanya.
Dia menambahkan, masyarakat awalnya mulai menggeluti usaha ubi kayu dikarenakan banyaknya permintaan oleh salah satu perusahaan tapioka yang ada di Kandis, Siak. Sehingga, para petani mengalihkan lahannya untuk menanam ubi.
“Untuk di daerah Rimbo panjang, ada sekitar 10 hektare lahan yang sudah kami tanami ubi. Dengan keuntungan yang cukup menggiurkan dari usaha ini, banyak masyarakat yang beralih menanam ubi kayu. Namun, apa yang kami lakukan jauh dari yang kami diharapkan, ubi yang kami hasilkan dihargai dengan sangat murah. Sekarang kami tinggalkan dan kami biarkan membusuk disana,” sebutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Riau M. Arpah berharap agar perusahaan bisa menampung produksi ubi kayu masyarakat dengan harga tinggi. Dia juga mengimbau perbankan memberikan modal usaha bagi petani.
“Perlu dibangun kemitraan khusus dengan perusahaan-peruasahan yang di Riau. Sehingga harga komoditas ubi naik di pasaran, dan petani kita sejahtera,” ucapnya.
Dalam mencari solusi ini, DPRD Riau turut mengundang sejumlah perusahaan seperti PT Arindo Citra Subur, Indofood, PT RAPP dan PT Indah Kiat. Karena, perusahaan-perusahaan ini tentunya membutuhkan bahan baku dari singkong.
“Kita harap bahan baku yang diproduksi masyarakat ini bisa tertampung di sejumlah perusahaan besar di kawasan setempat,” pungkasnya.










