Stunting di Siak Capai 3,229 Balita, Bappeda Prioritaskan Tekan Angkanya

banner 468x60

SIAK – Kasus stunting di Kabupaten Siak, Riau cukup tinggi, yaitu sebanyak 3,229 balita. Dari angka itu, Kecamatan Kandis menjadi yang terbanyak, yaitu 721 balita, disusul kecamatan Siak 318 dan kecamatan Koto Gasib sebanyak 316 balita. Untuk itu Pemkab Siak melalui sejumlah OPD ikut membantu menekan angka tersebut agar tidak terus bertambah.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Siak salah satunya OPD yang ikut berkontribusi mendukung program nasional itu. Bappeda menggelar sosialisasi percepatan penurunan dan pencegahan stunting di Kabupaten Siak sekaligus penetapan lokasi fokus intervensi penurunan stunting terintegrasi di kabupaten, Kamis (18/3/2021).

banner 400x400

Kepala Bappeda Siak Wan Yunus mengatakan, standar target WHO prevalensi stunting kurang dari 20 persen, sementara nasional menargetkan turun 3 persen pertahun. Target Nasional tahun 2024 sekitar 19 persen. Prevalensi Stunting Provinsi Riau Tahun 2018 sebesar 27,4 persen, sementara untuk Kabupaten Siak sendiri pada tahun 2019 prevalensi Stunting sebesar 27,79 persen.

“Ini menjadi tanggungjawab kita bersama, dalam rangka untuk mengurangi stunting di kabupaten Siak,” ucap Wan Yunus di ruang rapat kantor Bappeda.

Dirinya berharap peserta rapat dapat menyepakati komitmen intervensi terintegrasi penurunan stunting di Kabupaten Siak.

Lebih lanjut ia memaparkan, upaya penurunan Stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

Intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya Stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular dan kesehatan lingkungan. Intervensi ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan.

Intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, Peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, serta peningkatan akses pangan bergizi.

Indikator yang digunakan Kabupaten siak Dalam Menetapkan lokus intervensi stunting, antara lain: Tingginya prevalensi/persentase angka stunting di kelurahan/kampung, banyaknya jumlah balita stunting di kelurahan/kampung, Cakupan layanan yang sangat rendah, dan pendanaan program penurunan stunting yang bersumber dari APBN termasuk DAK, baik fisik maupun non fisik, APBD Kab. Siak, dan APBkam termasuk Dana Desa.

Turut hadir dalam sosialisasi tersebut Kepala Kantor Kemenag Siak, Kepala BPS, Kadis Kesehatan, Kadis Sosial, Kadis Perikanan, pengurus TP PKK Kabupaten Siak, Kepala Puskesmas se Kabupaten Siak dan perwakilan OPD. Menghadirkan narasumber Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappedalitbang Provinsi Riau Heriyanto, S.Hut, MT.

Sosialisasi ini bertujuan membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi. Selanjutnya juga dilakukan penetapan kampung sebagai kampung lokus atau prioritas intervensi stunting sekaligus menetapkan kesepakatan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam upaya intervensi penurunan stunting tahun 2021.

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan persentase stunting di Siak meliputi intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi spesifik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting.

banner 970x250