Hari Harimau Sedunia, FHK Ungkap Perburuan Harimau Masih Jadi Ancaman Utama

banner 468x60

PEKANBARU – Ketua Forum Harimau Kita (FHK), drh Ahmad Faisal, M Res, mengakui populasi Harimau Sumatera saat ini masih dalam posisi terancam karena minimnya rasa toleransi dari masyarakat.

Hal tersebut dia sampaikan kepada GoRiau.com menanggapi peringatan Hari Harimau Sedunia yang jatuh hari ini, Kamis (29/7/2021). Berdasarkan data Population Viability Analysis (PVA), saat ini tersisa 580-an ekor saja dan tersebar di seluruh kawasan Pulau Sumatera.

banner 400x400

Upaya konservasi, kata Faisal, sebenarnya sudah berjalan dan dibuktikan dengan cukup banyaknya program konservasi dari seluruh stakeholder terkait, mulai dari patroli kawasan konservasi, riset, monitoring populasi dan penegakan hukum.

“Yang menjadi kendala adalah masih minimnya rasa toleransi dari manusia terhadap eksistensi satwa liar, dan tidak cuma Harimau Sumatera saja, tapi juga terkait satwa liar besar seperti gajah,” ujarnya.

Disamping itu, dari dulu sampai hari ini masih ada saja oknum-oknum pemburu yang menjadikan harimau sebagai objek buruan mereka. Dan, diakui Faisal, praktek perburuan menjadi ancaman utama populasi HS.

“Kami dari forum sudah melaksanakan patroli perlindungan kawasan yang lebih baik melalui kampanye dan lain sebagainya,” tuturnya.

Dilansir dari Mongabay, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) diketahui hidup di 22 lansekap hutan di pulau Sumatera sedang mengalami ancaman kepunahan akibat deforestasi, perburuan dan juga konflik dengan manusia.

22 lansekap tersebut adalah Leuser Ulumasen, Dolok Surungan, Batang Toru, Senepis-Buluhala, Barumun, Batang Gadis, Rimbopanti/Pasaman, Giam Siak Kecil, Kampar, Kerumutan, Tesso Nilo, Rimbang Baling, Kerinci Seblat-Batanghari, Bukit Tigapuluh, Bukit Duabelas, Berbak-Sembilang, Hutan Harapan, Dangku, Bukit Balai Rejang Selatan dan Way Kambas.

Dari hasil PVA, hanya 3 dari ke-22 lansekap itu yang menunjukkan kecenderungan populasi dapat bertahan hingga 100 tahun kedepan, yaitu Leuser-Ulumasen, Kerinci Seblat dan Batang Gadis. Namun, ketiganya saat ini sedang mengalami tantangan deforestasi akibat usulan pembangunan jalan dan perubahan tata ruang.

Upaya konsevasi terus dilakukan dalam menjaga eksistensi Harimau Sumatera, sebab pemerintah tenru tak ingin masih Harimau Sumatera akan berakhir seperti Harimau Jawa. Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) dinyatakan telah punah sekitar tahun 1980-an akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat dari binatang ini secara drastis.

banner 970x250