PEKANBARU – Pengamat perkotaan, Dr Mardianto Manan ST MT, menilai dua periode kepemimpinan Wali Kota Pekanbaru, Firdaus, tidak ada kebijakan yang bermanfaat dalam konsep Waterfront City di Sungai Siak.
Padahal konsep waterfront city merupakan konsep pembangunan di negara-negara maju yang pusat perkotaannya berada di pinggiran sungai. Mestinya, Wali Kota Firdaus, sudah memikirkan ini sesuai dengan klaim Pekanbaru smart city atau kota pintar.
Mardianto yang baru saja menyelesaikan kuliah S3 nya dengan disertasi berjudul ‘Strategi Pengelolaan DAS Siak yang Berkelanjutan’, mengatakan, konsep pembangunan waterfront city memang membutuhkan komunikasi yang intens dengan provinsi dan pusat.
Anggota Komisi IV DPRD Riau ini menjelaskan, konsep waterfront city merupakan konsep pembangunan yang menjadikan sungai sebagai pemandangan, bukan tempat pembuangan seperti hari ini.
“Kondisi sekarang, sungai kan cenderung ada dibelakang rumah, dibuntuti, belakang itu identik dengan buangan, berarti tempat sampah, jorok dia karena banyak limbah. Bahkan, bangkai hewan dan spring bed pun dibuang ke sungai. Sepanjang tak diubah paradigma pikir bahwa sungai ada di belakang, kondisi akan tetap begini,” kata Mardianto, Kamis (12/8/2021).
Jika Wali Kota serius dalam membangun konsep waterfront city, mestinya dia sudah mengarahkan supaya masyarakat di pinggiran sungai memutar rumahnya ke arah sungai, Sehingga, sungai akan menjadi tempat yang terawat.
“Bayangkan, kalau semua rumah itu menghadap ke sungai, ketika si A mau membuang sesuatu, dia akan dikeroyok banyak mata yang memandang. Kalau dibelakang, dia mau buang apa, siapa yang tahu? Nah, saat sungai menjadi hadapan, sungai akan terpelihara dengan sendirinya,” terangnya.
Mardianto memimpikan, suatu saat nanti dia bisa berjalan keliling Kota Pekanbaru menggunakan jalur air seperti di kota-kota maju, dimana sungai-sungai kecil di dalam kota dilintasi oleh perahu-perahu kecil.
“Hal itu sangat mungkin, khayalan saya begitu, makanya saya dukung pengerukan Sungai Sail. Sekarang Sungai Siak itu sudah mengalami pendangkalan 8 meter, dulu dia jadi sungai terdalam dengan kedalaman 30 meter, berarti sisa 22 meter. Itu data lama, sekarang tentu lebih dangkal lagi,” ujarnya.
Konsep waterfront city, menurut Mardianto, mulai dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Siak. Hal itu bisa dilihat bagaimana pemerintah setempat memulai pembangunan di pinggir sungai dan menjadikannya sebagai objek wisata.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Riau ini juga mengapresiasi kapal wisata Quantung Cruise yang secara tidak langsung merupakan bagian awal penataan pemukiman sungai.
“Jadi, nanti sepanjang sungai itu akan ada rumah-rumah masyarakat, dan bagian pinggiran sungai yang tidak ada pemukiman kita hijaukan saja, menjadi kawasan ekologi,” tuturnya.
Lebih jauh, Mardianto mengakui bahwa kewenangan sungai berada di pemerintah pusat sehingga agak sulit melakukan pembangunan pinggiran sungai. Namun, itu bukan alasan bagi wali kota yang mendeklarasikan dirinya sebagai sang visioner.
“Wali kota harusnya sudah mulai menata itu, jalin koordinasi dengan provinsi dan pusat, bagi tugas. Susah memang, tapi itu harusnya menjadi bukti kepiawaian orang-orang visioner. Katanya kan Pekanbaru smart city, bukan stupid city, buktikanlah. Kalau hanya bergantung APBD Kota Pekanbaru, sama saja macam anak kuliah yang bergantung uang dari orang tua, tak ada visioner-visionernya,” tutupnya.










