oleh

Perilaku Nudisme Tidak Terkait Gangguan Jiwa


banner 300x250

NATURISME atau nudisme merupakan suatu gerakan kultural dan politik yang mempraktikkan pergaulan telanjang baik dalam lingkungan pribadi maupun umum. Istilah itu juga dapat merujuk pada gaya hidup yang diterapkan oleh para kaum nudis. 

 

Sebelum istilah nudis dikenal luas, ada banyak istilah alternatif yang menggambarkan gaya hidup atau pergaulan telanjang tersebut. Mulai dari public nudity (telanjang di muka umum), hingga clothes free (bebas pakaian). Istilah ini turut diusulkan, namun tidak diterima oleh masyarakat luas. 


Dilansir Okezone dari berbagai sumber, Jumat (9/3/2018), filsafat naturisme sebetulnya berasal dari sejumlah sumber. Beberapa diantaranya diketahui mengikuti jejak filsafat kebugaran dan kesehatan di Jerman pada awal abad ke-20. kendati demikian, naturisme juga sering dikaitkan dengan konsep kembali ke alam dan menciptakan kesetaraan juga dinyatakan sebagai inspirasinya. 

 

Gagasan ini pun menyebar luas hingga ke Britania Raya, Kanada, hingga Amerika Serikat melalui jaringan dan komunitas yang terus dikembangkan. Bagi sebagian orang paham naturisme atau nudisme ini mungkin selalu dikaitkan dengan aktivitas seksual dan hal-hal erotis lainnya. 

 

Namun menurut psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, sebetulnya ada beberapa faktor mendasar yang melatarbelakangi seseorang untuk ikut menerapkan gaya hidup tersebut. 

 

“Kalau menurut saya ini ada kaitannya dengan perasaan bebas dan tidak ingin terkekang oleh aturan/norma yg berlaku di sekitar. Bisa jadi juga sebagai upaya untuk menampilkan diri apa adanya ke dunia. Jadi lebih seperti mengekspresikan diri dengan “lihat aku sebagaimana aku apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi,” tutur Arrundina saat dihubungi Okezone via telepon. 

 

Lebih lanjut ia menjelaskan, pada awalnya setiap individu yang ingin menerapkan gaya hidup nudis ini akan merasa canggung untuk menunjukkan eksistensinya. Tapi setelah terbiasa dengan perilaku mereka yang seperti itu, ada semacam ikatan yang terjalin antar sesama anggota komunitas. 

 

“Jadi lebih menunjukkan kepercayaan dan keterbukaan antar satu sama lain,” imbuhnya. 

 

Saat ditanya apakah perilaku ini menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan, wanita lulusan Universitas Padjadjadan itu menegaskan bahwa nudisme tidak termasuk pada klasifikasi gangguan jiwa. 

 

“Tapi bisa saja overlapping sama gangguan exhibitionist yang suka menunjukkan alat vital mereka di tempat umum. Untuk mengetahui lebih lanjut memang perlu dilakukan diagnosis langsung oleh para profesional. Yang ingin saya tegaskan, nudisme sebetulnya lebih berkaitan dengan standar normalitas yang berlaku di suatu nasyarakat. Di Indonesia sendiri pasti bentrok karena tidak lazim dan taboo,” tukas Arrundina.

(ndr)