oleh

Ternyata Kota Siak Tak Pernah Banjir Ada Kaitannya dengan Cara yang Dilakukan Sultan Pertama, Ini Catatan Kecil Irving Kahar Arifin

Pasar Pohon menjadi salah satu objek wisata baru di kabupaten Siak yang lokasinya di depan Masjid Islamic Center atau di bawah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.

SIAK – Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga banjir dan longsor untuk 5 Kabupaten di Riau hingga 31 Desember 2018. Beruntung kabupaten Siak tidak masuk dalam 5 daerah yang rawan banjir itu.

Kenapa hingga saat ini Kota Siak sangat jauh dari bencana banjir itu?, ini catatan kecil yang dibuat Kadis PU Tarukim Siak, Irving Kahar Arifin dalam status di akun Facebooknya, Senin (3/12/2018).

banner 300x250

Bicara sejarah, kata Irving, Siak Sri Indrapura, kota yang dahulu merupakan pusat kerajaan Siak Sri Indapura ini masih menyisakan cerita dan sisa kejayaannya tempo dulu.

Bahkan hingga kini, metode pembangunan yang dilakukan pada masa Sultan Pertama yakni Raja Kecik masih diterapkan secara turun menurun.

Sewaktu beliau dulu membangun Kerajaan Siak di Desa Buantan Besar, pertama kali yang dilakukan oleh Sultan ini adalah membuat saluran yang dikenal dengan istilah SUAK.

Sultan Siak pertama ini menggali Suak tersebut sebagai fungsi pengeringan atau dalam istilah PU adalah Dewatering, yaitu proses pengeringan lahan sekaligus berfungsi sebagai benteng untuk melindungi Istana dari hewan liar dan buas.

“Semestinya pola pembangunan yang dilakukan oleh Sultan Siak pertama ini yang diteruskan turun temurun sampai Sultan ke 12 harus kita jadikan sebagai referensi dalam membangun dan merencanakan suatu kota,” kata Irving Kahar Arifin.

Menurut Magister Teknik Sipil dari India ini, dalam handbooknya Engineering Hydrology menyatakan koefisien banjir pada daerah terbuka akan lebih besar 6,7 kali dari koefisien banjir daerah yang ditutupi hutan sekunder.

Akibatnya pada daerah yang terbuka (perkotaan) siklus hydrology pada fase infiltrasi tidak akan terelewati, karena resapan air yang diharapkan dengan adanya hutan atau ruang terbuka hijau tidak akan terjadi.

Debit air akibat curah hujan tersebut akan berubah menjadi aliran permukaan atau surface runoff yang akan menggenangi permukaan bumi.

“Coba bayangkan seandainya curah hujan yang turun 50 mm/ hari, artinya curah hujan terjadi dengan volume 50 liter per meter persegi selama satu hari. Wooow, ini kalau semuanya merupakan surface run off maka kota ini akan kebanjiran akibat tidak berfungsinya saluran drainase yang ada. Belum lagi permasalahan drainase yang tersumbat oleh sedimentasi dan lumpur,” sebut Irving lagi.

Jika melihat banjir yang terjadi di salah satu kota di Riau dan selalu menjadi keluhan masyarakat tersebut, Irving menilai genangan air yang cukup tinggi sementara drainase jalan masih kosong.

Dari pengamatan Irving, umumnya drainase jalan ditutupi dengan plat beton, sehingga air hujan tidak dapat masuk ke drainase, lubang-lubang pada kansten yang biasanya untuk aliran air hujan banyak tersumbat, sehingga air mengalir mengikuti kontur jalan.

Dan pada daerah cekungan menyebabkan jalan tersebut seperti kolam retensi air dan airnya terperangkap tak tau mau kemana keluarnya dan tingginya hampir sebatas betis orang dewasa.

Akibat genangan air tersebut banyak kenderaan roda dua yang terjebak dan mesinnya mati akibat businya basah kuyub, dan pada gilirannya banyak kenderaan yang ikut berhenti untuk meraba-raba jalan yang bisa dilalui.

Pemilik Rumah Toko (Ruko) yang berdiri sama elevasinya dengan jalan yang terendam tersebut sibuk menghalangi air masuk dengan membuat tumpukan-tumpukan, namun sepertinya sia-sia aja.

“Melihat kondisi ini sepertinya saya sebagai insan Pekerjaan Umum (PU) sangat malu, dan dalam hati saya bertanya, gimana dulu proses memperoleh IMB nya tanpa memperhitungkan penutupan drainase hampir sepanjang blok ruko tersebut,” tandasnya.

Irving berharap, semoga kedepannya Pemerintah di daerah yang rawan banjir ini bijak dalam memberikan perizinan yang menyangkut dengan system drainase perkotaan.

“Karena pertumbuhan suatu kota akan terus berlanjut dan jika kurang perhatian dari insan PU terhadap drainase perkotaan maka kota tersebut akan menjadi kota yang berkuah,” kata Irving sembari mengucapkan Selamat Hari Bakti PU ke-73 yang diperingati setiap 3 Desember 2018 bagi seluruh insan PU. ***