oleh

Berawal dari Pengalaman Pribadi, Polisi di Riau Ini Salurkan Hobi Membaca ke Masyarakat tanpa Mengenal Lelah, Begini Kisahnya..

Jepril menyempatkan mengajar anak-anak di sela-sela tugasnya sebagai polisi (foto astri jasiana nindy)

PEKANBARU – Semakin banyak membaca maka akan semakin banyak tahu. Sama halnya seperti sebuah pepatah yang mengatakan ‘Membaca adalah Jendela Dunia’. Hal ini pula yang berusaha disampaikan oleh seorang pria bernama Jepril, yang berusaha mencoba membangkitkan minat baca kepada generasi muda, khususnya remaja dan anak-anak.

Berawal dari langkah istrinya yang telah membuat perpustakaan namun setelah beberapa waktu berjalan, perpustakaan ini tiba-tiba saja vakum. Sampai akhirnya Jepril sebagai suami mengambil langkah dan memilih melanjutkan program dari perpustakaan keliling tersebut. Dikarenakan saat ini minat baca masyarakat yang tinggal di daerahnya cukup rendah.

banner 300x250

Sampai akhirnya, di awal tahun 2018 Jepril mengelola kembali perpustakaan tersebut melalui niat dan tentunya kejadian yang telah dia alami sendiri, dan telah berhasil menjalankan serta menghidupkan kembali perpustakaan tersebut sampai sekarang.

Perpustakaan yang di kelola olah Jepril ini, tidak hanya menyediakan layanan buku untuk dibaca, tetapi ia juga mengajarkan pendidikan non formal tentang bagaimana cara membaca kepada anak – anak. Cara tersebut ia lakukan karena di luar sana masih ada anak – anak yang belum mengenyam pendidikan.

Adapun nama perpustakaan yang di kelola oleh Jepril ini yaitu Bintara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat atau biasa di singkat Bhabinkamtibmas. Dengan perpustakaan tersebut Jepril memberikan pengetahuan berupa buku bacaan kepada anak – anak setiap waktu libur. Dikarenakan tugas sebagai seorang anggota kepolisian di Polres Kampar, Riau, sehingga membuatnya memilih pada waktu libur agar bisa dimanfaatkan oleh anak-anak tersebut membaca. Pada akhirnya kegiatan inipun menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh Jepril.

Pada saat untuk memulai perpustakaan tersebut, Jepril membeli beberapa buku bacaan secara pribadi ditambah dengan beberapa koleksi buku bacaan yang sudah ada. Namun, seiring berjalannya waktu, baik teman – teman dan lembaga – lembaga juga ikut membantu dalam penyediaan buku bacaan yang ada di perpustakaannya.

Sampai saat ini, jumlah koleksi buku yang dimiliki oleh perpustakaan Bhabinkamtibmas ini kurang lebih berjumlah 600 buku. Dari 600 buku tersebut tidak hanya buku pelajaran tapi juga buku-buku lainnya seperti buku cerita anak, majalah, novel dan masih banyak lagi.

Selain menjalankan perpustakaan keliling menggunakan mobil, Jepril juga membuka perpustakaan dikediaman pribadinya. Namun, untuk pergerakan distribusinya ke desa – desa sendiri dengan menggunakan sepeda motor, yang pada bagian belakang motor diletakkan dua keranjang pada sisi kanan dan kiri.

Ketika diwawancarai, Jepril menceritakan sebuah pengalaman yang dialaminya sendiri kepada GoRiau.com. Ia menceritakan tentang karakter dari kedua putranya. Putra pertama Jepril adalah seorang anak yang hobi dan memiliki koleksi buku yang cukup banyak, dan putra pertamanya ini bukanlah anak yang peduli dengan yang namanya gadget. Ia akan menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya, untuk sisanya dihabiskan waktu untuk membaca.

Namun, lain halnya dengan anak Jepril yang kedua pada karakter anak ini sangat jauh dan bertolak belakang dengan kakaknya. Jika kakaknya lebih banyak membaca, anak kedua ini lebih memilih bermain gadget dibandingkan membaca buku. Padahal sebenarnya seluruh sumber ilmu itu adalah buku dan dimulai dari membaca.

“Saya awalnya melihat dari anak saya sendiri yaitu anak yang sangat hobi baca, sedangkan adeknya lebih menyukai bermain gadgetnya dibandingkan membaca buku. Itulah awal yang membuat saya semangat, tidak hanya keluarga tapi juga yang lain,” kata Jepril kepada GoRiau.com, Jumat (21/12/2018).

Ia juga menambahkan, pernah suatu ketika, ia mengambil rapor anaknya yang pada saat itu mendapatkan ranking. Kemudian ada seseorang yang merupakan salah satu orangtua yang satu kelas dengan putranya. Kemudian orangtua siswa tersebut menanyakan perihal bagaimana prestasi yang telah dicapai oleh anaknya. Kenapa anak itu bisa mendapatkan juara, sedangkan anaknya tidak.

Dengan tenang dan tersenyum Japri menjawab bahwa semua kemampuan anak itu pada dasarnya sama, hanya saja yang membedakannya adalah kerajinan dan kegigihanlah yang membuat anak itu berbeda.

“Kalau anak itu juara, pintar maupun berprestasi di bidang lainnya, salah satu faktor penunjang adalah dengan rajin membaca,” tambahnya.

Itulah yang menjadi landasan Jepril sebagai pengelola perpustakaan, selain itu, ia juga terinspirasi oleh rendahnya minat baca dari anak- anak yang dikarenakan pesatnya perkembangan zaman dan teknologi.

Saat ini, ia Jepril hanya menjalankan perpustakaan keliling tersebut pada dua desa, yaitu Desa Rimbo Panjang dengan tiga dusun, dan Desa Kualu Nenas yang memiliki empat dusun. Pemilihan desa tersebut karena jalur di desa itu merupakan desa binaan Bhabinkamtibmas tempat dia mengabdi.

Kegiatan yang telah dilakukan Jepril ini sudah mendapat banyak dukungan dari masyarakat, mereka juga sangat senang karena sudah ada kegiatan positif yang dilakukan oleh anak – anak selain bermain pada saat libur.

Jepril juga berharap dengan adanya suatu pergerakan ini dapat memotivasi banyak orang, dan membangkitkan kembali minat baca untuk generasi Indonesia. Karena pada dasarnya minat baca harus dikenalkan sejak dini, agar nantinya itu merupakan hobi bagi anak – anak di Indonesia khususnya Riau.