oleh

Riau Sangat Perlu Pelabuhan Perikanan Pantai, Ini Alasannya

pelabuhan perikanan (int)

PEKANBARU – Aksi ilegal di perairan pantai Timur Sumatera masih sering terjadi. Peristiwa itu biasanya dilakukan di Selat Malaka hingga kawasan Laut China Selatan. Kendati begitu, hal tersebut bukan satu-satunya ancaman bagi sektor bahari Riau. Tantangan lainya juga muncul dari perilaku sejumlah nelayan yang lebih memilih menjual ikan di tengah laut.

Menurut anggota DPRD Riau, Firdaus, minimnya perhatian terhadap sektor bahari merupakan pemicu utama dibalik munculnya kerugian di sektor perikanan. Politisi asal Rokan Hilir itu mencontohkan apa yang terjadi di Bagansiapiapi.

banner 300x250

“Dulu Bagansiapiapi itu kan dikenal sebagai sentra perikanan, sekarang kan tidak sejaya dulu,” sebutnya kepada Gatra.com, Kamis (20/12/2018).

Dijelaskan Firdaus turunnya pamor Bagansiapiapi dalam usaha perikanan, disebabkan oleh beberapa faktor seperti aksi pencurian ikan, dan penjualan ikan.

“Terkadang ikan-ikan yang sudah ditangkap dijual di tengah laut. Pun begitu aksi pencurian ikan oleh kapal asing juga banyak menggunakan cantrang,” sebutnya kepada Gatra.com di Pekanbaru.

Penjualan ikan di tengah laut sejatinya bukan hanya dilakukan di kawasan perairan Riau. Hanya saja penjualan di area ini bersentuhan langsung dengan nelayan luar (Malaysia). Alasan ekonomi dipekirakan menjadi pemicu utama dibalik cara penjualan semacam itu.

Kata Firdaus, upaya meredam aktivitas penjualan semacam itu dapat dilakukan dengan membangun pelabuhan perikanan pantai.

Fasilitas semacam ini dapat difungsikan untuk memantau mobilitas nelayan dengan menjadikan tempat itu sebagai terminal satu pintu.

“Kalau aksi pencurian ikan dapat diredam melalui kegiatan patroli. Penjualan ikan di tengah laut tentu juga bisa diminimalisir dengan fasilitas semacam itu. Jadi konsepnya satu pintu,” ujarnya.

Sekadar informasi Riau memiliki garis pantai sepanjang 2.078 kilometer, membentang dari Kabupaten Rokan Hilir hingga Kabupaten Indragiri Hilir.