oleh

Inilah Bentuk Komitmen UIN Suska Mengajar

Salah satu koleksi foto dari UIN Suska mengajar di Suku Talang Mamak

PEKANBARU – Berangkat dari semangat dan inspirasi yang dilakukan oleh Pak Taktung dalam pendidikan, Unit Kegiatan Mahasiswanya (UKM) yang bernama Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim (UIN Suska) mengajar berkomitmen untuk terus mamajukan masyarakat awan dalam dunia pendidikan.

Berdiri sejak 2012, UIN Suska Mengajar (USM) yang awalnya merupakan program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dengan nama Kabinet Bersahabat. Dikarenakan masa program tersebut hanya satu kali setahun oleh adanya pergantian kepengurusan, akhirnya pada tahun 2013 dan 2014 program kerja ini menjadi sebuah komunitas, yang berhasil menjalankan program mulai dari jilid II, jilid III dan jilid IV. Sampai akhirnya, pada tahun 2016 program ini ditetapkan oleh rektor menjadi UKM tetap.

banner 300x250

“Jika dilihat dari tahun berdirinya mungkin saat ini sudah memasuki tahun kedua namun jika dilihat dari tahun berdirinya ini merupakan tahun ke enam,” kata pembimbing UKM USM Nur Alfarizi, di UIN Suska Riau, Jumat (28/12/2018).

Pada tahun 2013 merupakan ekspedisi pertama yang di lakukan oleh USM Ke Desa rantau Langsat, kec. Batang Gansal kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Provinsi Riau . Dimana desa tersebut terdiri dari kurang lebih 15 dusun sebagian besar terletak di dalam Taman Nasional Bukit 30 (TNBT ) dan juga terdiri dari tiga suku asli riau yaitu suku melayu tua, talang Mamak dan Kubu.

Pada ekspedisi pertama ini, UKM UIN Suska Mengajar memberangkatkan orang anggota. Mereka berangkat menuju lokasi ekspedisi, saat itu alternatif pilihan untuk mencapai desa tersebut hanya ada dua pilihan yaitu naik boat dan jalan kaki. Jika naik boat yang ukuran sedang dengan maksimal 6 orang upah yang dibayarkan sekali jalan itu sekitar Rp1 juta. Karena banyaknya orang yang ikut dan minimnya dana, relawan ini pun memilih berjalan dari pada menaiki boat, untuk mengingat biaya yang cukup besar.

Untuk menuju dusun Lemang dan dusun Mimisan dengan berjalan kaki, tentu saja jarak yang mereka lalui cukup jauh dan memakan waktu lama. Saat itu, mereka berangkat sekitar pukul 7.00 pagi sampai dengan sore pukul 19.00 malam.

Selama beberapa hari UKM mengajar di dusun tersebut. Sampai akhirnya seluruh anggota UIN Suska Mengajar pulang ke Pekanbaru tanpa kekurangan apapun. Setelah balik dari kampung tersebut, seluruh anggota mah nyadari adanya masalah dalam pendidikan. Alfarizi mengatakan kenapa pendidikan itu disana minim, itu dikarenakan akses menuju ke tempat tersebut lumayan sulit.

Kemudian akhirnya tercetuslah sebuah pergerakan yang bernama One Month One Thausand (Omot), yang sampai saat ini masih berjalan. Kegiatan ini melihat dari banyaknya jumlah mahasiswa yang ada di UIN Suska Riau. Alfarizi mengumpamakan hal yang sangat sederhana, misalnya, jika saat ini ada sekitar 20.000 mahasiswa dan di ambil saja 10.000 mahasiswa yang menyumbang Rp1.000 per orang. Pasti jumlah tersebut sudah membantu anak-anak di Suku Talang Mamak, dan hasil itu akan diberikan langsung untuk beasiswa anak-anak.

“Dari 20.000, mahasiswa yang ada di UIN dan kita mendapat 10.000 saja untuk donasi OMOT ini, sudah cukup lumayan, hasil itulah yang di pakai untuk membiayai beasiswa adek-adek,” ujar Alfarizi.

Setelah berjalan 2 tahun, saat ini kurang lebih ada 24 siswa yang dibeasiswakan oleh yang tersebar di beberapa pondok yaitu, di Pekanbaru Pondok Darul Muqommah Rumbai yabg berjumlah 17 siswa santri, Arisalah Ponerogo 4 santri, di Nahdatul Qur’an 1 santri , dan yang terakhir Sabil Al Salam yang berjumlah 2 santri, serta 2 mahasiswi kebidanan di Pekanbaru Hospital Media Center (PMC). Ia juga menambahkan bahwa setiap tahun pasti ada peningkatan jumlah siswa, namun saat ini masih segitu.

“Saat ini jumlahnya masih segitu dan tiap tahun pasti adanya peningkatan dan jumlah anak yang mendapat beasiswa,” tambahnya.

Alfarizi mengatakan bahwa dalam pemilihan siswa yang mendapat beasiswa ini tidak ada pemilihan dan pendaftaran khusus seperti pada umumnya. Ia menyebutkan jika ada anak yang berkeinginan untuk sekolah. Maka UKM UIN Suska mengajar akan membawanya ke Pekanbaru dan didaftarkan ke beberapa sekolah dan yayasan yang telah bekerja sama.

Untuk saat ini, UKM UIN Suska mengajar tidak hanya berdiri sendiri, namun sudah ada lembaga dan yayasan yang ikut membantu membeasiswakan anak-anak dari Suku Talang Mamak.

Kegiatan ini menjadi sebuah komitmen yang dilakukan oleh UKM untuk melanjutkan serta menjalankan keinginan Pak Taktung dalam memajukan pendidikan, keinginanya pun cukup sederhana yaitu baca tulis hitung tamat (Batuhitam).

Mungkin sebelumnya masih banyak yang belum mengetahui kisah Pak Taktung. Pak Taktung bisa dikategorikan pejuang dalam memberantas buta aksara di desa rantau langsat, suku melayu tua, talang mamak dan kunu di Kabupaten Indragiri Hulu, pak taktung bisa dikategorikan sebagai tokoh pendidikan di desa rantau langsat.

Ia mengabdikan diri untuk mengajar dan tinggal bersama masyarakat. Pak Taktung bukanlah seorang pengawai negeri sipil, melainkan hanya penduduk biasa yang ingin mengajarkan baca tulis hitung di desa Rantau Langsat.

Dalam sebuah kisah film dokumenter pada tahun 2014 lalu, menceritakan alasan mengapa Pak Taktung memilih menjadi seorang pengajar. Masyarakat yang tinggal di Suku Talang Mamak mendapatkan penghasilan dari menjual hasil dari hutan. Jadi, pada saat itu merupakan musim buah. Satu ketika ada anak- anak turun dari kampung untuk menjual petai.

Pada saat itu ada salah satu penjual petai itu memborong semua dagangan anak tersebut. Si pembeli bertanya kepada anak-anak tersebut berapa harga petai satu ikatnya, dan anak itu menjawab RP3.000.

Jumlah petai saat itu ada 50 ikat, jika 3 dikali 50 maka akan mendapatkan hasil 150. Namun sang pembeli menjawab 120. Ketika sampai dirumah, Pak Taktung bertanya kepada pemborong tadi mengapa di banyar hanya Rp120.000, seharusnyakan ia membayarkan sebesar Rp150.000, dengan santainya pembeli menjawab ‘biar saja mereka kan anak pedalaman’.

Sontak saja hal itu membuat Pak Taktung memandang miris hal tersebut, jika anak – anak di pedalaaman tidak ada yang mendidik dan tidak mendapatkan ilmu, maka seterusnya beginilah anak-anak di pedalaman, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke Datai yang merupakan Dusun paling ujung Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Menjadi seorang pengajar ini sudah di tekuni oleh Pak Taktung sejak tahun 2001 sampai sekarang. Saat ini di Dusun Datai sudah berdiri sebuah pondok yang didirikan oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan 3 orang pngajar tetap diantaranya Pak Taktung, alumni pembimbung USM Bintang, dan salah satu warga yang ada di dusun tersebut.

Untuk awal tahun 2019 nanti, ketika waktu libur kuliah USM akan kembali ke Talang Mamak untuk membantu mengajar anak-anak disana, sebelum akhirnya mereka akan mencari lokasi baru dalam melakukan ekspedisi mengajar.