oleh

Kisah Pilu Nadia, Gadis Remaja di Pekanbaru yang Harus Jadi Buruh Batu Bata untuk Nafkahi 3 Adiknya

Nadia Safitri (kiri) dan ketiga adiknya menerima bantuan dari Polresta Pekanbaru, Jumat. (25/1) sore. (foto: ganda)

PEKANBARU – Saat gadis seusianya fokus belajar di sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), Nadia Safitri justru berkutat sebagai buruh di pabrik batu bata. Pekerjaan tersebut sudah dijalani gadis yang kini berusia 17 tahun itu sejak setahun lalu.

Setelah ibunya pergi meninggalkannya setahun lalu, gadis remaja ini terpaksa berhenti sekolah. Selain tak punya biaya untuk sekolah, gadis itu harus bertanggug jawab merawat dan menafkahi tiga adiknya, yakni Diana(15), Marcel (10) dan Kevin (7).

banner 300x250

Selain menjadi buruh batu bata, Nadia juga membantu menjualkan goreng. Dari setiap goreng yang terjual, ia mendapatkan komisi Rp200. Dari komisi itu, dalam satu hari dia bisa mendapatkan sekitar Rp10 ribu. “Hasil dari membantu menjualkan gorengan itu tak cukup untuk biaya makan, makanya saya bekerja membuat batu bata yang pabriknya dekat rumah,” ungkap Nadia, di rumahnya, Jumat (25/1/2019).

Nadia dan tiga adiknya tinggal di rumah sangat sederhana berukuran 4×5 meter. Rumah berdinding papan milik neneknya itu terletak di Jalan Badak Ujung, RT 04 RW 04, Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau

Pantauan Goriau.com, di rumah yang didiami Nadia dan adik-adiknya itu tidak ada sumur dan toilet. Untuk kebutuhan air, mereka mengandalkan air hujan yang tertampung di lubang bekas galian alat berat. Posisi lubang itu sekitar 3 meter dari dinding rumahnya. Airnya berwarna kekuningan dan berbau.

Karena di rumah tak ada toilet, maka untuk buang air, mereka memanfaatkan jamban berdinding karung, berukuran 1X1 meter, yang berjarak beberapa meter dari rumahnya.

“Iya, kita terpaksa gunakan air dari lubang ini, karena nggak ada sumur. Kalau minum, ada air galon kadang. Kalau buang air, di jamban itu,” ucap Nadia.

Ingin Sekolah Lagi

Nadia berharap bisa berkumpul lagi dengan ibunya dan kembali bersekolah. “Ya, pengennya sekolah lagi. Kalau bisa berkumpul lagi dengan ibu, setelah satu tahun beliau nggak pernah pulang,” ujarnya.

Sementara Ketua RT setempat Hendriadi, mengakui kehidupan Nadia dan tiga adiknya sangat memprihatinkan. Mereka juga tidak memiliki akta kelahiran.

“Mereka tidak punya akta kelahian. Bahkan dalam KK (Kartu Keluarga), mereka terpencar-pencar kakak-adik. Masuk ke dalam KK paman atau lainnya,” ungkap Hendriadi.

Dijelaskan Hendriadi, ibu Nadia bernama Yuliarna. Yuliana memang sudah lama pergi meninggalkan anak-anaknya, sudah sejak 5 tahun lalu. Yuliana beralasan pergi untuk mencari nafkah ke Taluk Kuantan, Kuantan Singingi, Riau. Hingga setahun lalu, Yuliana masih menafkahi anak-anakya dan sering pulang ke rumah. Namun sejak setahun lalu, Yuliana tak pernah lagi pulang dan tak lagi menafkahi Nadia dan adik-adiknya.

Lanjut Hendriadi, belakangan diketahui kalau Yuliana sudah menikah untuk ketigakalinya dan tinggal di Madura, Jawa Timur. Sedangkan ayah kandung Nadia, juga sudah menikah lagi dan tinggal di Painan, Sumatera Barat.

“Ibu Nadia sudah punya keluarga. Anak-anak ini tinggal bersama paman dan neneknya, namun kehidupan keluarganya ini susah pula, makanya Nadia terpaksa cari uang sendiri untuk menafkahi diri dan adik-adiknya,” urai Hendriadi.

Polresta Serahkan Bantuan

Kabar tentang kisah pilu Nadia dan adik-adiknya kemudian beredar di masyarakat, sehingga menarik simpati dari berbagai pihak, termasuk pihak Polresta Pekanbaru. Jumat (25/1) sore, pihak Polresta Pekanbaru, mendatangi kediaman Nadia untuk menyerahkan bantuan.

Kegiatan ini bagian dari program Jumat Barokah yang dilaksanakan Polresta Pekanbaru untuk membantu masyarakat kurang mampu. ed.hb