oleh

Selain Mampu Pulihkan Gambut, Program 3R BRG Bisa Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

PEKANBARU – Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan berbagai upaya untuk memulihkan keadaan gambut, khususnya di Riau yang merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan gambut cukup luas. Beberapa program yang dilakukan seperti pembasahan (rewetting), revegetasi dan program revitalisasi ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut.

Salah satu contoh program revitalisasi tersebut adalah perkebunan nanas yang dikembangkan BRG sejak 2016 lalu di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung Raya, Kabupaten Kampar, Riau. Totalnya terdapat 300 hektare hamparan perkebunan nanas yang dikelola kelompok masyarakat Mekarsari di wilayah itu manfaatnya sudah dapat dirasakan.

banner 300x250

Bupati Kampar, Catur Sugeng mengakui program tersebut membantu pemerintah setempat dalam mengatasi kebakaran gambut yang selama ini menjadi masalah sulit dipecahkan. Dia mengatakan 300 hektare lahan gambut yang kini telah disulap menjadi perkebunan nanas awalnya langganan kebakaran tiap musim kering tiba.

“Alhamdulillah sejak 2015 sampai sekarang tidak terjadi lagi kebakaran, dan justru masyarakat kita terbantu dari sisi ekonomi dengan program ini,” sebut Catur kepada GoRiau.com di Kampar, Jumat (5/4/2019).

Terpisah, Kepala BRG, Nazir Foead mengatakan akan mendorong program revitalisasi sepanjang 2019 ini karena berdampak luas tidak hanya perbaikan gambut juga merangkap dengan upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Dari rapat kabinet yang dipimpin Presiden diprioritaskan membantu masyarakat. (Salah satu pembahasan) tidak boleh membuka lahan dengan bakar dan kita harus bantu. Kita tindak lanjuti dengan program revitalisasi yang diperkuat,” jelas Nazir.

Ia mengatakan hal tersebut disela-sela kunjungan kerjanya memantau perkebunan nanas yang dikembangkan BRG sejak 2016 lalu di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung Raya, Kabupten Kampar. Total terdapat 300 hektare hamparan perkebunan nanas yang dikelola kelompok masyarakat Mekarsari di wilayah itu.

Selain melakukan pemantauan di perkebunan nanas yang kini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama nihilnya kebakaran sejak tiga tahun terakhir, Nazir juga menyerahkan enam surat perjanjian kerjasama swakelola (SPKS) yang merupakan bagian dari program revitalisasi ekonomi.

Enam SPKS tersebut terdiri dari satu paket kegiatan budidaya nanas di Desa Pagaruyung, Kampar. Selanjutnya tiga paket kegiatan peternakan sapi untuk tiga Pokmas di Kabupaten Bengkalis. Serta satu paket masing-masing budidaya cabai di Bengkalis dan lebah kelulut di Kota Dumai.

“Kita pastikan rogram ini akan terus berlanjut dan diperluas di Provinsi Riau,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa potensi pengembangan perkebunan ramah gambut kepada masyarakat begitu besar, dan perlu terus digali.

“Kita sadari masyarakat butuh dukungan untuk mengelola lahan gambut pertanian tanpa bakar. Lahan produtif, hasilnya bisa memberikan dampak ekonomi. Kita bantu mulai dari pembibitan hingga pasca panen,” tutup Nazir.