oleh

Bawa Sejumlah Pimpinan OPD, Dua Kabupaten di Bali Jadi Tujuan Studi Tiru Pemkab Siak

BALI – Hari pertama tiba di Provinsi Bali untuk misi promosi pariwisata Negeri Istana bersempena helat Festival Pusaka Nusantara VII dan Rakernas JKPI 2019 di Amlapura Kabupaten Karangasem, dimanfaatkan Pemkab Siak untuk melakukan studi tiru di dua kabupaten sekaligus.

Rombongan Pemkab Siak berbagi tugas dalam dua kelompok untuk melaksanakan studi tiru di Tabanan dan Badung yang terkenal unggul dengan beberapa sektor pembangunan, khususnya dibidang pelayanan publik dan kepariwisataan.

banner 300x250

Delegasi Pemkab Siak yang melaksanakan studi tiru ke Kabupaten Tabanan dipimpin langsung oleh Bupati Alfedri, dan disambut Staff Ahli Bupati Bidang kemasyarakatan dan SDM Sudaryo, dikantor Bupati Tabanan, Jumat pagi (21/6/19).

Sedangkan yang studi tiru ke Badung dipimpin langsung oleh Sekda Siak, Tengku Said Hamzah. Banyak inovasi tentang kepariwisataan yang dapat dicontoh oleh Pemkab Siak dari kabupaten Badung ini. 

Bupati Siak, Alfedri memilih Kabupaten Tabanan yang memiliki 10 Kecamatan, 133 Desa, 814 Banjar Dinas, 348 Desa Adat, 933 Banjar Adat tersebut dengan membawa pimpinan OPD di pemkab Siak.

Dengan harapan kedepan dapat mencontoh beberapa inovasi unggul yang ada di Tabanan yang telah ditetapkan sebagai lumbung padinya Provinsi Bali itu. 

“Kita akan belajar dan mengamati berbagai program pelayanan masyarakat dan pelayanan publik terbaik yang ada disini, untuk nantinya dilaksanakan di Siak. Setelah ini akan ada pertemuan dan evaluasi di Seik sebagai tindak lanjut kegiatan studi tiru ini,” kata Alfedri. 

Sebagai Kabupaten yang baru menginjak usia 20 tahun pada Oktober mendatang, pemimpin Siak itu menyatakan komit untuk terus meningkatkan kualitas layanan publik lewat beragam inovasi pembangunan.

“Semoga dengan adanya kunjungan ini, kedepan kita mampu terus meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat,” harapnya.

Di Tabanan lanjut Alfedri, delegasi Pemkab setidaknya telah mencatat dan siap menerapkan beberapa skema dan pola kebijakan hasil studi tiru dari Tabanan. 

Misalnya, kata dia terkait pembangunan infrastruktur jalan secara mandiri, layanan angkutan anak sekolah, penanganan ketahanan pangan dan diverifikasi pangan di areal pariwisata, manajemen pengelolaan kabupaten sehat, pengelolaan dan pengaturan penempatan dalam bentuk perda perlindungan tenaga kerja lokal.

Termasuk juga terkait pengembangan varietas tanaman kopi, pemanfaatan sampah dan pengelolaan bank sampah, penerapan sasaran kinerja pegawai, 

“Ada peternakan untuk meningkatkan kesejahteraan pengembangan masyarakat, pengelolaan warisan budaya dunia subak, serta tata ruang, perumahan rakyat & kawasan pemukiman, dan pembinaan kampung proklim,” jelas dia.

Beberapa hal menarik kata dia misalnya terkait pola pengelolaan sampah, dimana Kabupaten Tabanan sudah sangat maju dalam menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan plastik melalui Peraturan Gubernur tentang pembatasan penggunaaan plastik. Selain itu kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh aturan-aturan adat istiadat.

“Misalnya sedotan disini sudah tidak lagi dari plastik, tapi dari bambu atau stenlesstel, termasuk dalam berbelanja di supermarkat juga sudah membawa tas sendiri dari rumah. Demikian juga penyelenggaraan pemerintah adat telah berjalan turun temurun, sehingga hukum adat lebih kuat dan ditaati masyarakat ketimbang hukum formal,” jelas Alfedri.

Sementara itu delegasi kedua di Kabupaten Badung, untuk mempelajari dan melakukan studi tiru beberapa hal terkait penerapan tunas integritas dan budaya integritas, kerjasama pemanfaatan daerah tujuan wisata, perencanaan pariwisata desa, pengelolaan dan penyelenggaraan smart city, penyelenggaraan Lembaga Adat di Desa. 

Selain itu Pemkab Siak juga mempelajari bagaimana proses verifikasi dan validasi Basis Data Terpadu (BDT) penduduk miskin, penyusunan anggaran berbasis kesejahteraan gender, pengelolaan perpustakaan desa, pengembangan pariwisata tingkat desa dan kecamatan, 

“Banyak hal lainnya yang kita pelajari, seperti pelaksanaan tugas-tugas penanggulangan bencana, pembinaan kepemudaan berbasis adat istiadat, pengelolaan pasar pariwisata, pembinaan pengrajin souvenir, pembinaan pencalang terkait keamanan dan ketertiban wilayah,” kata Hamzah.