TEHERAN – Foto satelit dari sebuah pemakaman di luar kota suci Iran, Qom tampak menunjukkan galian parit panjang yang akan digunakan untuk kuburan massal ketika jumlah pasien yang sekarat karena penyakit virus korona baru (COVID-19) meningkat. Sementara itu, Teheran mendesak AS dan negara-negara lain untuk mengirim bantuan medis dan mencabut sanksi ekonomi yang mencekik.
Dengan lebih dari 12.000 kasus, Iran memiliki lebih banyak pasien COVID-19 dari negara manapun, kecuali Italia dan China lebih dari 12.000. Hanya dalam 24 jam terakhir, lebih dari 1.000 kasus baru telah dikonfirmasi, dan total 429 orang telah meninggal karena varian virus korona ini, sejak wabah dimulai.
Satu metode yang digunakan Iran untuk menghadapi krisis itu adalah dengan menggali kuburan massal besar di pemakaman Behesht-e Masoumeh di luar Qom, salah satu kota paling suci di Syiah Islam dan pusat utama wabah COVID-19 di negara itu.
Diwartakan Sputnik, beberapa foto satelit yang diambil pada 1 Maret oleh perusahaan teknologi ruang angkasa pribadi Maxar Technologies menunjukkan apa yang tampak sebagai dua situs kuburan massal yang sedang dipersiapkan. Foto-foto tersebut pertama kali dilaporkan oleh New York Times pada Selasa (10/3/2020).
Kedua parit itu memberikan hampir 100 meter ruang baru untuk memakamkan jenazah para korban.
Mengutip analis Maxar, Vox mencatat adanya tumpukan besar di dekat parit baru yang diduga sebagai kalsium oksida, atau kapur, untuk mendisinfeksi mayat saat dikuburkan. Associated Press sebelumnya melaporkan bahwa staf Behesht-e Masoumeh sedang melapisi kuburan dengan kapur jika jenazah yang meninggal dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.
Praktik penguburan Muslim menyerukan kepada mereka yang meninggal karena wabah atau penyakit epidemi lainnya untuk dimakamkan sehari semalam setelah mereka meninggal. Namun di tengah wabah COVID-19 beberapa praktik, seperti memandikan jenazah sebelum dikuburkan tampaknya tidak dilakukan, setidaknya di Iran.
(dka)




