Pandemi Covid-19, PKS Riau ‘Sulap’ Lahan Bekas Pembuangan Sampah Jadi Ladang Cabe

PEKANBARU – Terobosan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Riau dalam program ketahanan pangan di tengah Covid-19 ternyata membuahkan hasil.

Pasalnya, tempat pembuangan sampah yang berukuran sekitar 1000 meter persegi di Jalan Paus, Pekanbaru ternyata berhasil ‘disulap’ oleh PKS menjadi laboratorium alam.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua DPW PKS Riau, Hendry Munief saat melakukan panen pertama untuk batang cabe. Kepada GoRiau.com, Hendry mengatakan proses penanaman ini sudah berlangsung sejak tiga bulan yang lalu.

Rinciannya 1 bulan ditanam dalam polybag, dan selama 2 bulan ditanam dalam kawasan lahan tersebut.

Hendry menjelaskan, program ini sebenarnya di-launching berdasarkan semangat menjaga stok kebutuhan pangan saat pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat masyarakat otomatis ter-lockdown beberapa bulan yang lalu.

“Sekarang ini kan sudah mulai terasa pandemi yang panjang. Makanya tiga bulan yang lalu kita terus gencarkan semangat bertanam sendiri, mulai dari lahan terkecil. Jadikan ini sebagai hikmah Covid-19,” ujar Hendry, Kamis (20/8/2020).

Hendry mengaku, program ketahanan yang melibatkan tiga orang ahli ini dilirik oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS. Bahkan Presiden PKS, Sohibul Iman mendukung supaya program ini dijadikan program nasional.

“Alhamdulillah DPP PKS mengontak kita supaya ini jadi program Ketahanan Pangan Nasional. Untuk di Riau juga sudah berlakukan di 12 Kabupaten Kota,” tuturnya.

Lahan ini, disebut Hendry sebagai Laboratorium Alam karena semua proses penanaman hingga pemupukan tidak menggunakan zat kimia. Semuanya organik sehingga hasilnya jauh lebih sehat.

Apalagi, lahan ini langsung dikomandoi oleh Nova Yudha yang merupakan seorang pakar dibidang pertanian organik, dan pembina petani organik wilayah Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Jambi dan Sumatera Selatan dari tahun 2011 hingga sekarang.

Selain Nova Yudha, Program ini juga melibatkan Pkar Penyuluh Pertanian Kota Pekanbaru, Nasihin dan juga Doktor muda lulusan Tokyo Metropolitan University, yaitu Dr. Indra Purnama, M.Sc.

Sementara itu, Pakar Pertanian Organik, Nova Yudha mengatakan lahan ini mulanya adalah tempat pembuangan sampah dan kemudian dibersihkan bersama beberapa petani urban.

 “Ini kedepannya akan lebih baik, saya akan fokus disini. Sekarang ini dikelola tiga orang, yang paling sering itu pak Syamsul. Dia setiap hari disini, kita hanya mengedukasi dan Alhamdulillah semuanya bisa dilakukan dengan manual,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Syamsul mengaku dirinya tidak memiliki kendala berarti dan mengelola lahan ini dengan senang hati seperti merawat anak sendiri.

“Tidak ada kendala, yang penting kits gembur terus tanahnya, seperti bagaimana kita memperhatikan anak lah. Tanah pun tidak ada masalah,” tutupnya.