oleh

Agar tak Punah dan Terancam Dicabut dari Anugerah WBTB, Komunitas Azimat Melayu Pesisir Lestarikan Joget Sonde

SELATPANJANG – Komunitas Azimat Melayu Pesisir Kepulauan Meranti melestarikan budaya Joged Sonde agar tidak punah dan terancam dicabut dari anugerah Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pagelaran dilaksanakan di Pantai Gelombang Cinta, Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Rabu (24/2/2021).

Turut hadir menyaksikan tarian warisan budaya Suku Akit itu, Camat Rangsang Pesisir, H Arifuddin Ali, Sekretaris Desa Sonde, Adnan, Anggota DPRD Kepulauan Meranti, Sopandi Rozali, Anggota DPD MPR RI, Instiawati Ayus SH MH, Kepala Bagian Hukum dan HAM Sekretariat Daerah, Sudandri Jauzah SH, Kepala Bidang Kebudayaan, Syarifuddin, Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi, Abdullah, Penggiat Joget Sonde, Alam dan sejumlah anggota Komunitas Azimat Melayu Pesisir.

banner 300x250

Dalam sambutannya, Camat Rangsang Pesisir, H Arifuddin Ali mengungkapkan jika wilayah Kecamatan Rangsang Pesisir terancam hilang akibat abrasi yang mendera.

Selain menyuarakan permasalahan pelestarian budaya, camat juga meminta kepada senator di Senayan itu untuk menyuarakan agar ada solusi yang didapatkan terkait penanggulangan soal abrasi.

“Kami meminta bantuan kepada pemerintah agar peduli terhadap tradisi Joget Sonde ini agar dapat dilestarikan dengan mengangkat budaya ini dan jangan sampai pupus. Selain itu abrasi yang melanda akibat gelombang Selat Melaka juga sudah sangat mengkhawatirkan. Untuk itu mohon kiranya harapan kami bisa disuarakan dan bisa dicarikan solusinya,” kata Arifuddin Ali.

Senada dengan Camat, Sekretaris Desa Sonde, Adnan juga mengkhawatirkan dicabutnya Joget Sonde dari WBTB hanya karena tidak ada yang melestarikannya.

“Kami sangat mengkhawatirkan jika Joget Sonde ini hilang dan dicabut dari WBTB. Semoga saja ada regenerasi yang melestarikannya dan tidak hanya berjalan ditempat. Dan kami sangat berterima kasih kepada Azimat Melayu Pesisir yang telah peduli dengan tradisi ini,” ungkap Adnan.

Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepulauan Meranti, Abdullah mengatakan anugerah WBTB yang disematkan kepada Joget Sonde pada tahun 2016 itu merupakan tanggungjawab dan beban bagi pemerintah daerah untuk melestarikannya. Jika tidak, maka akan ada evaluasi dari kementerian terkait untuk mencabut predikat itu.

“Sebenarnya ini merupakan beban dan tanggung jawab kita dalam melestarikannya. Terimakasih kepada Azimat Melayu Pesisir yang telah peduli dengan budaya kita yang hampir punah. Dan inilah salah satu bentuk dan cara kita melestarikannya,” ujarnya.

Salah satu penggiat seni sekaligus anggota DPRD Kepulauan Meranti, Sopandi Rozali mengatakan Joget Sonde merupakan PR bersama agar tidak punah. Untuk itu dia berharap agar masyarakat bahu membahu untuk melestarikan seni tersebut.

Selain itu pria yang akrab disapa Atah Pandi itu berharap agar banyak aktifitas yang bersifat tradisional dari Kepulauan Meranti mendapatkan predikat WBTB.

“Joget Sonde merupakan PR bersama agar jangan sampai terhapus dan kita ingin joged ini dilestarikan dari setiap generasi. Kepada masyarakat mari kita bahu membahu mengangkat khazanah daerah dan aktifitas yang bersifat tradisional agar tidak hanya satu yang mendapatkan WBTB. Selain itu kita juga berharap bidang kebudayaan ini bisa menjadi pemasukan dan pendapatan bagi daerah,” ujar Sopandi.

Anggota DPD MPR RI, Instiawati Ayus SH MH menimpali apa yang disampaikan Sopandi terkait bidang kesenian dijadikan sumber pendapatan bagi daerah. Dia mengatakan hal itu bisa saja terwujud jika semuanya ikut berperan.

“Untuk menjadikan bidang seni menjadi pemasukan bagi daerah seperti di Bali kita semua harus ikut berperan dan menjaga kelestarian alam. Seperti contoh kita yang tidak bisa melakukan Joget Sonde harus bisa melakukan hal lain yang mendukung joget itu sendiri,” kata Instiawati Ayus.

Sementara itu koordinator acara Azimat Melayu Pesisir yang bertajuk ‘Menjaga Joget Sonde, Menjaga WBTB, Saipul Rizan didampingi konseptor acara, Rudy Rizal mengatakan pihaknya sangat peduli dengan tradisi yang ada di Kepulauan Meranti yang sebagian hampir punah karena tidak dilestarikan.

“Kita berupaya menyelamatkan tradisi Joget Sonde dari kepunahan dan menjaganya dari evaluasi kementerian terkait yang akan mencabut predikat WBTB yang telah disematkan pada joget ini dan inilah salah satu bentuk kita untuk melestarikannya,” kata Saipul Rizan.

Pria yang akrab disapa Qboy Kepurun itu juga mengatakan jika sebelumnya ia dan Komunitas Azimat Melayu Pesisir terus mencari dukungan dan mendapatkan donatur untuk membelikan alat musik dan kostum bagi penari Joget Sonde.

Ditambahkan Rudy Rizal alias Kodon, saat ini pihaknya telah mendapatkan bantuan dari Bank Riau Kepri yang memberikan bantuan satu set alat musik dan kostum dari anggota DPD RI, Instiawati Ayus.

“Kita telah mendapatkan kabar jika akan ada surat yang turun dari kementerian untuk melakukan evaluasi terhadap tradisi yang sebelumnya telah diberikan prediket WBTB. Dan jika tradisi itu tidak dilestarikan, maka ia akan terancam dicabut, untuk itu kita berinisiatif untuk menggelar kegiatan ini dan menggandeng para donatur terhadap apa yang bisa kita perbuat untuk Joget Sonde ini agar tetap dilestarikan,” pungkas Rudy.

Dalam kegiatan tersebut juga diserahkan bantuan satu set alat untuk Joget Sonde bantuan dari Bank Riau yang diserahkan oleh anggota DPRD Kepulauan Meranti, Sopandi Rozali dan kostum penari yang diserahkan langsung oleh anggota MPR RI Instiawati Ayus.