TELUKKUANTAN – Helpi Tri Andika, warga Kuantan Singingi (Kuansing), Riau tak pernah menyangka di kebunnya ada buaya. Kebunnya terletak di Desa Jake yang secara geografis berada di atas bukit dan jauh dari sungai.
“Rasanya tak mungkin ada buaya sampai di sini,” tutur Helpi kepada GoRiau.com, Senin (22/3/2021) di kebunnya.
Selama ini, Helpi tidak pernah melihat adanya buaya di kebunnya. Namun, ia sering menemukan bulu ayam yang habis dimangsa hewan buas.
Tepat dua hari lalu, Helpi bersama adik iparnya sedang membersihkan kebun dengan mesin pemotong rumput. Saat mendekati batas tanah, ia dikejutkan dengan sesuatu yang bergerak ke parit gajah. “Kok jejaknya aneh, bukan jejak babi.”
“Kemudian, saya lihat di semak-semak belukar. Tampak ekornya berduri. Lalu, saya panggil adik untuk menangkapnya,” ujar Helpi.
Proses penangkapan, Helpi mengaku tidak punya pengalaman. Hanya saja, ia melihat penangkapan buaya di televisi. Bermodalkan itu, ia mencoba menaklukkan buaya tersebut.
“Seperti di Tv itu, saya ambil tali pakai kayu lalu disarungkan ke mulutnya. Setelah itu, kami tutup mata dengan baju dan ikat kakinya,” terang Helpi. Kemudian, buaya digotong dan disimpan di pondoknya.
Buaya tersebut dibiarkan di pondoknya. Ia tak percaya bahwa itu memang buaya. Bahkan, ia sempat mengira itu adalah buaya jadi-jadian. Karena itu, ia sengaja menyimpan buaya di pondok dengan mulut terikat.
“Mana tau, besoknya berubah kan. Ternyata masih tetap buaya,” ujar Helpi sambil tersenyum. Sejak buaya ditangkap, Helpi dan keluarga mengaku dihantui perasaan kecemasan. Terlebih berkaitan dengan hal-hal mistis. “Karena tak mungkin ada buaya sampai ke sini,” katanya.
Karena wujudnya tetap buaya, Helpi sempat kebingungan mau diapakan hewan tersebut. Dilepaskan kembali di kebunnya tak mungkin. Sebab, bisa mengancam keselamatan dirinya dan keluarga.
“Saya coba kasih tahu sama tetangga yang kebetulan anggota polisi. Nah, beliau yang mengurusnya hingga dijemput BBKSDA,” ujar Helpi. Adalah Bripka Epit Yulius, yang menjadi penghubung dengan BBKSDA Riau.
Hewan buas ini diserahkan Helpi kepada Ar Azmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, disaksikan oleh Bripka Epit Yulius dan Bripka Tabra Suryandi, Bhabinkamtibmas Desa Jake, Senin (22/3/2021) siang.
“Hewan ini dilindungi, terimakasih sudah menyerahkan ke BBKSDA dan nanti akan diobservasi dan kami kembalikan ke habitatnya,” ujar Ar Azmi saat menerima senyulong tersebut.
Menurut Azmi, buaya ini diperkirakan berasal dari sungai terdekat. Jika memang tidak ada sungai, kemungkinan besar merupakan peliharaan warga setempat.
“Bisa saja dilepaskan tuannya, karena biayanya semakin besar, tentu tak sanggup lagi memeliharanya,” kata Azmi. Senyulong ini berjenis kelamin betina. Azmi memperkirakan usianya sekitar 3 sampai 4 tahun.
Senada dengan itu, Dian Indriati, Humas BBKSDA Riau yang dihubungi secara terpisah menyatakan bahwa buaya tersebut merupakan buaya sumpit. Salah satu jenis buaya yang langka. “Pemakan ikan,” katanya.




