Seperti Yang Terjadi 250 Juta Tahun Lalu, Planet Bumi Diprediksi Kembali Alami Kepunahan Massal

JAKARTA – Ilmuwan mengungkapkan bahwa ada potensi bahwa dunia akan mengalami kepunahan massal seperti yang pernah terjadi 250 juta tahun lalu. Dimana, saat itu 95 persen kehidupan laut hancur dan 70 kehidupan darat juga hancur.

Peristiwa kepunahan yang dikenal dengan istilah Permian-Triassic tersebut diyakin terjadi 250 juta tahun yang lalu. Peristiwa ini dipicu oleh letusan gunung api yang terus berlangsung selama dua juta tahun dan mengeluarkan karbon dioksida ke atmosfer.

Hal tersebut disampaikan seorang profesor geofisika dari Massachusetts Institute of Technology, Daniel Rothman. Dia menyebut, Bumi sedang merangkak perlahan menuju kepunahan massal. Sebab, jumlah karbon yang dihasilkan manusia dan terbawa ke atmosfer akan memiliki dampak yang fatal.

“Setiap ada event besar di sejarah kehidupan, ada juga gangguan besar terhadap lingkungan. Hal ini cenderung terjadi bersama-sama,” kata Rothman, seperti dikutip dari Futurism, Minggu (12/12/2021).

Rothman mengatakan penyebaran karbon dalam jumlah besar di laut dan atmosfer akan mengganggu siklus karbon. Ia mengatakan dalam empat dari lima kepunahan massal sebelumnya terjadi peningkatan perubahan siklus karbon.

Rothman mencontohkan, jika jumlah karbon di lautan terlalu banyak bisa menyebabkan air laut menjadi asam dan tidak bisa dihuni oleh makhluk hidup.

Dalam perhitungannya, Rothman mengatakan ambang batas untuk karbon di lautan sekitar 300 gigaton. Angka ini cukup mengkhawatirkan mengingat manusia diprediksi akan mengeluarkan 500 gigaton karbon ke lautan pada tahun 2100.

#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }

Untungnya ada sedikit harapan. Pemimpin dunia mulai menganggap perubahan iklim sebagai isu yang makin krusial.

Upaya global seperti konferensi lingkungan COP 26 yang baru saja digelar juga menjadi langkah yang tepat, meskipun implementasinya masih tanda tanya. Tapi masih ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh negara-negara untuk melawan ancaman besar seperti kepunahan massal.

“Saya ingin melihat lebih banyak lagi tapi orang-orang baik sedang mencoba melakukan yang terbaik,” pungkas Rothman.