LAMR dan Ditjenpas Riau Siapkan Sinergi, Bahas Pembinaan 16.700 Warga Binaan

banner 468x60

Inforiau.ID, PEKANBARU — Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) membuka peluang sinergi dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Riau untuk mendukung pembinaan warga binaan agar dapat kembali ke tengah masyarakat.

Hal itu dibahas dalam kunjungan silaturahmi Kepala Kanwil Ditjenpas Riau Rudy F.S bersama rombongan ke Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro Nomor 39, Pekanbaru, Kamis (3/9/2026).

banner 338x250

Kunjungan tersebut disambut Ketua Umum MKA LAMR Datuk Seri Marjohan Yusuf, Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, serta jajaran pengurus LAMR.

Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menyambut baik kunjungan tersebut.

Menurutnya, LAMR merupakan rumah besar bersama yang terbuka bagi siapa saja untuk bersilaturahmi dan berkontribusi bagi kemajuan Riau.

“Silaturahmi menjadi ruang membangun komunikasi, persaudaraan dan kebersamaan,” kata Datuk Seri Taufik.

Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi dapat dilanjutkan melalui sinergi berkelanjutan antara LAMR dan Kanwil Ditjenpas Riau.

Sinergi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat, khususnya dalam mendukung proses pembinaan warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Sementara itu, Kepala Kanwil Ditjenpas Riau Rudy F.S menyebut kunjungan ke LAMR merupakan sebuah kehormatan bagi jajaran Ditjenpas Riau.

Ia berharap pertemuan tersebut menjadi awal kerja sama dalam berbagai bidang, termasuk memperoleh dukungan tokoh adat dalam proses pembinaan warga binaan.

“Sangat suatu kehormatan bagi kami yang sudah berkenan menerima kami. Semoga ini tidak hanya silaturahmi, namun bisa kerja sama dalam berbagai hal sehingga kami mendapat dukungan dalam menjalankan program kami,” ujar Rudy.

Rudy mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 16.700 warga binaan di Riau.

Jumlah tersebut disebut telah melebihi kapasitas lembaga pemasyarakatan, dengan kasus narkoba menjadi salah satu perkara yang dominan.

Menurut Rudy, kondisi tersebut membuat pembinaan warga binaan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh adat.

Selain menjalani hukuman, warga binaan juga perlu mendapatkan pembinaan agar menyadari kesalahan, memperoleh pembinaan kerohanian dan keterampilan, serta memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat.

“Kami perlu dukungan para datuk melakukan pembinaan terhadap warga binaan,” katanya.

Rudy juga berharap LAMR dapat ikut memberikan perhatian setelah warga binaan selesai menjalani hukuman dan kembali ke tengah masyarakat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu mereka beradaptasi sekaligus mencegah agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, salah seorang anggota rombongan Kanwil Ditjenpas Riau turut menceritakan pengalamannya saat bertugas di Nusa Tenggara Timur.

Ketika itu, terdapat warga binaan yang melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan.

Namun, warga binaan tersebut akhirnya kembali setelah dibujuk oleh kepala suku.

Pengalaman tersebut dinilai menunjukkan kuatnya peran tokoh adat dalam membangun komunikasi serta melakukan pendekatan kepada masyarakat, termasuk warga binaan.

Ketua Umum MKA LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Marjohan Yusuf turut mengapresiasi kunjungan Kanwil Ditjenpas Riau.

Ia menilai kondisi lembaga pemasyarakatan yang mengalami kelebihan kapasitas membuat dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan.

“Kami mendukung dan mendoakan Kanwil Ditjenpas Riau untuk terus berbuat yang terbaik untuk Riau. Kita sadari betul bahwa kerja bapak berat,” ujarnya.

Datuk Aspandiar menambahkan, apabila kerja sama antara LAMR dan Kanwil Ditjenpas Riau dapat direalisasikan, hal tersebut akan menjadi catatan penting bagi kedua lembaga.

“Jika kerja sama LAMR dengan Ditjenpas Riau terjalin, jelas ini catatan sejarah terbaik,” katanya.

banner 970x250