Inforiau.ID, PEKANBARU – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin menyampaikan tiga pesan penting kepada seluruh santri di Indonesia. Pesan tersebut menjadi bekal bagi generasi pesantren untuk menghadapi tantangan zaman sekaligus mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa.
Hal itu disampaikan Gus Muhaimin saat memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Kamis (22/10/2026).
Dalam amanatnya, tokoh yang dikenal sebagai Panglima Santri Nusantara itu menegaskan pentingnya peran santri dalam menjaga persatuan, meningkatkan kualitas diri, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.
Gus Muhaimin mengaku bersyukur karena peringatan Hari Santri Nasional yang memasuki tahun ke-11 dapat diselenggarakan di Provinsi Riau, daerah yang dikenal sebagai Bumi Lancang Kuning.
“Kita bersyukur, hari ini kita berbahagia tepat 11 tahun peringatan Hari Santri Nasional kita laksanakan. Hari ini tahun 2026 kita bisa laksanakan di Bumi Lancang Kuning, tanah Melayu Riau yang kita banggakan,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menyinggung sejarah perkembangan Islam di Riau yang sarat dengan nilai kasih sayang, kebersamaan, dan persatuan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus dijaga untuk memperkuat kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Perjuangan santri saat ini tidak hanya sebatas menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa.
“Santri adalah kekuatan umat Islam yang memiliki komitmen dan keinginan yang tulus untuk terus menjadi umat yang terbaik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Muhaimin menyampaikan tiga prinsip yang harus menjadi pegangan santri dalam menghadapi perkembangan zaman.
Pertama, santri harus menjadi penggerak persaudaraan dan persatuan, baik di lingkungan umat Islam maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kedua, santri dituntut terus meningkatkan kemampuan, memperbaiki kekurangan, serta mengembangkan potensi diri agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan perubahan.
Ketiga, santri harus memiliki akhlak dan perilaku terpuji sehingga mampu menjadi teladan bagi masyarakat.
Gus Muhaimin menilai, ketiga prinsip tersebut menjadi modal penting bagi santri untuk mengatasi berbagai keterbatasan sekaligus memperkuat kontribusi dalam pembangunan nasional.
Ia mengingatkan bahwa menjadi santri bukan sekadar menyandang status sebagai pelajar di pondok pesantren, melainkan juga mencerminkan karakter disiplin, mandiri, sederhana, dan tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
“Kepada seluruh santri di tanah air, disiplinlah, bersungguh-sungguh dan terus tidak pernah berhenti untuk belajar, beradaptasi terhadap tantangan dan perubahan. Bersiap-siaplah kalian kelak yang akan memperbaiki negeri dan dunia,” pesannya.
Lebih lanjut, Gus Muhaimin menekankan pentingnya pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan agar generasi pesantren mampu mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
Pada kesempatan itu, Gus Muhaimin juga memberikan penghargaan kepada para ulama dan pengelola pesantren atas kontribusi mereka dalam mendidik serta membentuk karakter generasi muda.
Ia berharap pesantren terus melahirkan sumber daya manusia berkualitas, berakhlak, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pekanbaru diharapkan menjadi momentum bagi generasi santri untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kemampuan, serta mengambil peran nyata dalam membangun Indonesia.










