SELATPANJANG – Komunitas Azimat Melayu Pesisir (AMP) mendatangi langsung ke rumah-rumah warga dalam kegiatan membagi-bagikan takjil di bulan suci Ramadhan 1441 hijriah/2020 masehi, pada Sabtu (9/5/2020) sore.
Sebuah komunitas yang bernuansa kemelayuan itu menyambangi rumah warga untuk membagikan takjil tepatnya pada ramadhan ke 16.
Komunitas yang dinakhodai Zulfahmi itu melalui anggotanya, Sabri membeberkan, sesuai imbauan dari pemerintah agar tidak berkumpul apa lagi pandemi virus Corona atau Covid-19 belum usai, untuk itu pihaknya membagikan takjil tersebut dengan cara mendatangi rumah-rumah warga.
“Saye rase dengan cara kite datangi rumah-rumah warga lebih efektif dan beradab ape lagi melayu itu dipuji salah satunye dari sisi adabnye,” ucap Sabri dalam bahasa melayunya.
Kemudian sebut Sabri lagi, mengingat menghindari kerumunan orang ramai pihaknya menyepakati tidak berdiri di Jalan dan simpang untuk membagikan ratusan takjil dari H Said Hasyim tersebut.
Hal senada disampaikan Wakil Direktur Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK) Selatpanjang bidang akademik Yenni Herayani SKom MKom bahwa ia turut senang karena bisa turun bersama rekan-rekan komunitasnya itu dalam kegiatan membagikan takjil.
“Semoge kegiatan ini bermanfaat bagi kite semue ape lagi ini di bulan ramadhan,” tutur Yenni yang berparas jelita itu.
Lebih jauh dikatakan Yenni, ia juga merasa senang karena bisa berbagi melalui komunitas yang dileburnya, ia mengakui komunitas AMP itu lebih tekun soal adab dan berbudi bahasa.
“Meski saye baru bergabung di Komunitas itu, saye banyak belajar tentang makne kemelayuan. Bahkan Saye merase belum tau banyak filisovis dari pakaian, kain samping dan lain-lainnye, pungkas Yenni lagi.
Kata wanita berparas jelita itu lagi, ia mengungkap rasa kenyamanannya itu sudah terjalin sejak ia mulai bergabung di komunitas itu. Ia akan siap mengikuti kegiatan-kegiatan AMP kedepan, sebab dari sisi kostum menggambarkan pakaian diere kerajaan dahulu kala, sehingga hal itu membuat ia tertarik dan ikut serta diberbagai kegiatan.
“Melayu itu menjunjung tinggi adat resam, dari sisi pakaian khususnye kami kaum Hawa ditegaskan untuk menutup aurat dan tidak ketat, karena di jaman nenek-nenek kite dulu pakaiannye mesti besar dan longgar, pade intinye lahirnye komunitas ini adelah untuk mengkampanyekan kepade masyarakat luas agar mereke juge tergerak untuk mengikuti dan ambil bagian dalam mengajak masyarakat lainnye untuk ikut serte,” pungkasnya.




