Datang ke Lokasi Banjir Bawa 5 Kotak Indomie dan 4 Karung Beras Lalu Foto-foto, Ini Tanggapan Warga Terhadap Wali Kota Pekanbaru

PEKANBARU – Warga di sekitar Jalan Cengkeh, Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, yang terkena musibah banjir tersinggung dengan kedatangan Walikota Pekanbaru, Firdaus.

Pantauan GoRiau.Com di lapangan, tampak sejumlah warga sedang tidur-tiduran di dalam Posko Kemensos yang berdiri di sekitar perumahan warga.

Posko tersebut hanya tersedia terpal warna biru, dan sehelai tikar milik warga. Selain itu di tenda dapur terlihat peralatan memasak, dan anggota TNI sedang berjaga, namun tidak ada satupun aparat pemerintah seperti petugas medis, dan lainnya berada di lokasi posko.

Warga yang berada di Posko terdengar mengeluh, bahkan ada yang mengumpat. Bukan tanpa sebab, warga mengaku kecewa hingga tersinggung dengan perlakuan Walikota Pakanbaru, Firdaus, yang datang pada hari Sabtu (24/4/2021) siang.

Kedatangan Firdaus mengecewakan masyarakat, lantaran mengumpulkan warga yang rumahnya tidak dapat digunakan terendam banjir, kurang lebih 50 orang sebagai perwakilan.

Namun, sembako yang diberikan hanya 5 kotak Indomie, 4 karung beras seberat 5 kilogram, 4 papan telur ayam, beberapa helai pakaian, dan sedikit bumbu makanan.

Ditambah, kedatangan Firdaus di tengah masyarakat yang terkena dampak banjir di Jalan Cengkeh, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Dia datang kesini disuruhnya warga berkumpul, ada sekitar 50-an orang tadi berkumpul, lalu membawa wartawan ramai-ramai, foto-foto, langsung dia pulang, bahkan menyebutkan asalamualaikum saja tidak,” ujar seorang warga bernama Wan Susilawati (52) dengan nada geram.

Warga merasa dihina oleh Walikota Pekanbaru, dengan kedatangan dan cara yang dinilai warga tidak manusiawi.

“Walikota menghina kami kalau seperti ini, warga yang mengungsi saja hampir 100 KK, dia datang membawa sembako begini dan caranya tidak beradab, kami sangat kecewa,” lanjutnya.

Kemudian pria yang kerap disapa Pak Kumis itu juga menyinggung posko yang diberikan, juga sangat tidak layak.

“Posko ni saja tidak bisa dipakai, bagaimana mau dipakai hanya ada terpal saja. Makanya warga memilih ngekos, ngontrak, dan menumpang di rumah keluarga, kalau seperti kami ini gimana nasib kami,” ungkapnya.