PEKANBARU – Basrie Kamba resmi ditetapkan sebagai Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Badan Pengurus Daerah (API BPD) Provinsi Riau Periode 2021-2026. Ia terpilih mutlak sebagai ketua melalui Musyawarah Provinsi (Musprov) API BPD Riau yang dilaksanakan di Hotel Premiere Pekanbaru, Jumat (26/8/2021).
Ketika ditemui usai Musprov, Basrie Kamba mengatakan bahwa API merupakan tempat bernaung bagi para pelaku industri, khususnya industri kecil menengah (IKM). Sehingga asosiasi ini bukan hanya sekedar tunjuk-menunjuk pengurus, akan tetapi untuk menyatukan tekad bersama-sama mencapai apa yang diimpikan oleh para pelaku industri, diantaranya mengembalikan kejayaan industri tekstil.
“Saya tidak ragu sedikitpun bahwa API Riau bisa mewujudkan mimpi tersebut, namun tentunya saya tidak bisa sendiri dan harus diwujudkan bersama. Mimpi saya adalah nantinya akan banyak konveksi-konveksi di Riau. Apalagi kita dekat dengan negara Jiran. Karena kalau berbicara masalah potensi, kita punya pasar yang cukup besar dan dekat. Kemudian kita juga punya designer anak muda Riau. Saya yakin banyak sekali. Itulah kita nanti mencoba mengkoneksikan anak-anak muda ini termasuk anak Riau yang ada di luar. Itu tugas saya dan pengurus untuk membantunya,” kata Basrie yang saat ini menjabat sebagai Direktur PT Asia Pasific Rayon (APR).
Berbicara soal potensi yang lain, lanjut Basrie, pemerintah saat ini juga mendukung tekstil ini menjadi industri prioritas. Jika disebutkan prioritas tentu ini akan ada dananya, kegiatan dan seterusnya. “Dan mungkin tahun ini juga akan diumumkan bahwa Indonesia ingin menjadi pusat pakai muslim di dunia. Dukungan pemerintah ini adalah potensi besar bagi kita,” jelasnya.
Dijelaskan Basrie, pengurus API Riau yang akan dibentuk nantinya memiliki 3 tugas utama. Yang pertama adalah menyusun program sesuai dengan potensi dan tantangan yang ada di Riau.
“Itu yang pertama. Kita nggak mau muluk,” ucap Basrie.
Untuk yang kedua, progam kerja yang dibuat nantinya harus bisa memberikan kontribusi dari TPT Riau ke nasional.
“Karena tadi saya katakan Provinsi Riau ini cukup banyak potensinya, baik budayanya, ataupun kedekatan geografisnya. Cuman kan kendalanya itu tadi bahan bakunya, kemudian juga jarang dan sulit didapat dan harganya juga tinggi, selanjutnya adalah yang mereka butuhkan juga tak ada di pasar,” ucapnya.
“Nah ini tentu tak mudah bagi pengurus yang baru, namun dengan konektifitas dengan yang lain, saya kira ini akan mempermudah. Karena kita tak bisa sendiri, semua harus bersama-sama,” imbuhnya.
Selanjutnya program ketiga adalah bagaimana kemitraan dengan Pemda. “Dalam waktu dekat setelah pengurus terbentuk, kami akan audiensi dengan gubernur,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau, Asrizal mengatakan bahwa industri tekstil di Indonesia berjaya pada tahun 1980-1990-an. Namun, masa kejayaan itu dari masa ke masa mengalami penurunan. Apa lagi pada masa pandemi seperti hari ini, tak terkecuali industri tekstil, seluruh sektor industri terpukul pandemi Covid-19.
“Indonesia punya potensi sumber daya alam yang bisa membangkitkan industri tekstil ini. Siapa sangka dari bahan baku kayu bisa menjadi kain. Inilah yang dibuat APR menjadi rayon. Kita punya potensi besar di Riau untuk menghidupkan kembali industri tekstil tersebut,” kata Asrizal.
Apa lagi, lanjut Asrizal, APR merupakan produsen viscose rayon terintegrasi pertama di Asia. Sehingga masa depan industri tekstil di Riau diharapkan cemerlang.
“Kita bisa lihat bahwasanya kita punya potensi yang besar di Riau. Dari data yang ada, saat saya berkunjung ke APR Pelalawan, produk rayon APR ini akan menjadi produk terbesar di Asia. Tentunya ini potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh Riau. Sehingga dengan adanya re-aktivasi pengurus API BPD Provinsi Riau dapat mendongkrak kembali industri tekstil di Indonesia,” jelasnya.




