Jalan Kubu Bekas Peninggalan Chevron Rusak, Anggota DPRD Riau Ini Minta Perhatian PHR

PEKANBARU – Anggota DPRD Riau Dapil Rokan Hilir, Abu Khoiri, meminta Pertamina Hulu Rokan (PHR) segera memastikan status jalan yang sebelumnya dikelola oleh Chevron untuk operasional Blok Rokan.

Dikatakan pria yang akrab disapa Aboy ini, jalan yang memiliki panjang 44 Km dan lebar jalan 7-8 meter ini mengalami kerusakan parah. Kerusakan jalan tersebut membuat masyarakat kesulitan menjalankan aktivitasnya.

Sebab, jalan tersebut menghubungkan dua kecamatan, yaitu Kubu Babussalam dan Bangko Pusako. Dimana, dua daerah tersebut membutuhkan akses jalan yang bagus untuk pengangkutan komoditas sawit.

“Jalan itu untuk operasional Blok Rokan, sampai sekarang masih banyak pipa-pipa besar di sisi kanan dan kiri jalan,” kata Politisi PKB ini, Rabu (29/9/2021).

Dalam komunikasi terakhir dengan PHR, lanjut Aboy, PHR belum bisa memutuskan apakah jalan tersebut akan dihibahkan ke daerah atau dilanjutkan pengelolaannya oleh PHR. Makanya, PHR butuh waktu untuk melakukan kajian apakah jalan masih dipakai atau tidak.

“Kita harap PHR bisa memberi perhatian untuk jalan tersebut, jalannya sudah berlubang-lubang. Ada yang masih based, ada yang sudah rigid,” tambahnya.

Sebelumnya, Anggota DPRD Riau Dapil Rokan Hilir, Zulkifli Indra juga meminta PT Pertamina Hulu Rokan memperhatikan aset-aset yang dulu pernah terbengkalai selama pengelolaan Blok Rokan oleh Chevron.

#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }

Mantan birokrat senior ini bercerita, ketika dia melaksanakan reses di beberapa titik di Dapilnya, ada salah satu jalan yang rusak parah, dan diketahui jalan itu dulunya milik Chevron sewaktu masih bernama Caltex.

“Lokasinya itu di Sekapas, Kecamatan Rantau Kopar. Jalan ini dibuka oleh Chevron, lebarnya sekitar 6 meter, dan panjangnya sekitar 2,5 Km. Dulu sempat di base sama Chevron, tapi karena tak dipelihara, jadi rusak, kalau sudah hujan bisa tenggelam motor,” jelasnya.

Kondisi jalan tersebut, katanya, sangat parah, bahkan sekitar 200 KK masyarakat yang tinggal di daerah tersebut tidak bisa keluar dari kampungnya jika hujan lebat membasahi jalan mereka.

Buruknya kondisi jalan tersebut juga berimbas kepada sektor perekonomian masyarakat, dimana masyarakat tidak bisa menikmati harga sawit yang saat ini sedang tinggi-tingginya karena terpotong biaya angkut.