PEKANBARU- Salah seorang mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Ika, mengaku tidak percaya dengan isu pelecehan seksual yang menimpa Dekan Fisip, Syafri Harto.
Dikatakan Ika, dirinya merupakan salah satu mahasiswi dibawah bimbingan Syafri Harto dan juga menjumpai Syafri Harto di hari yang sama dengan orang yang mengaku sebagai korban pelecehan, yakni Rabu (27/10/2021).
Ika bercerita, pada hari itu Ika membuat janji dengan dosen pembimbing I dan II. Syafri sendiri merupakan dosen pembimbing II. Namun, yang dijumpai saat itu baru dosen pembimbing I.
“Jadi saya itu bimbingan ke kampus jam 1 siang, pak Syafri ini kan tidak balas wa saya, tapi setelah selesai bimbingan dengan dosen pembimbing I, saya keluar dan jumpa sama pak syafri lagi ngobrol sama tamu,” kata Ika, Jumat (5/11/2021)
Ika kemudian duduk di meja satpam karena dia masih menunggu Syafri melayani tamu dari Padang. Ika kemudian menunggu Syafri selesai melayani tamu tersebut karena berdasarkan keterangan satpam, Syafri sedang kedatangan banyak tamu hari itu.
Syafri yang melihat Ika langsung meminta Ika menunggu di ruangannya yang kecil dan sempit. Karena ruangan dekan sedang dalam tahap renovasi. Dalam ruangan sempit itu hanya ada satu meja dan tiga kursi.
Dilanjutkan Ika, di ruangan tersebut dia mendengar suara tukang yang sedang melakukan renovasi, bukan dalam suasana yang sepi. Sehingga, tak mungkin rasanya peristiwa yang dituduhkan terjadi dalam kondisi ramai begitu.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
“Kalau menurut saya, bapak ini orangnya memang ramah, mungkin ini yang bikin dia dituduh pelecehan seksual, tidak hanya ke mahasiswa bimbingan, ke tamu yang kemarin itu juga ramah,” tuturnya.
Selama menjalani masa bimbingan, Ika tak pernah sekalipun menerima bahasa yang mengarah ke pelecehan seksual. Bahkan, dalam pandangan dia, Syafri merupakan dosen yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, baik saat chatting maupun berjumpa tatap muka.
“Saya juga pernah bimbingan dari sore sampai maghrib, cuma kami berdua, tapi selama bimbingan itu tak pernah ada obrolan menyimpang, malah tiap selesai bimbingan di ruangannya, saya selalu diantar sampai ke pintu, dibukakan juga pintunya,” katanya.
Untuk itu, Ika mendukung jika Syafri Harto membawa ini ke ranah hukum karena dia memahami bagaimana beban mental yang diterima oleh keluarga besar.
Sebelumnya, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Riau, Syafri Harto, membantah tuduhan pelecehan seksual yang menghebohkan dunia maya, sejak hari Kamis (4/11/2021).
“Saya merasa dirugikan, saya tidak merasa berbuat seperti video yang viral di beberapa media sosial itu, apakah instagram, twitter segala macam. Saya tegaskan ini fitnah keji, Demi Allah saya tidak pernah melakukan pelecehan seperti yang dituduhkan oleh mahasiswi tersebut,” tegas Syafri Harto.
Karena menurut Syafri Harto, video tersebut adalah fitnah, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, ia akan mengambil langkah hukum untuk melaporkan mahasiswi berinisial AM itu dan akun medsos yang menyebarkan video tersebut.
“Saya akan segera laporkan ke pihak kepolisian. Saya percaya penegak hukum akan bertindak dan bekerja profesional,” ujar Syafri Harto
Pengakuan mahasiswi yang namanya dirahasiakan itu menjadi viral di media sosial dan diunggah oleh akun instagram Komahi_ur pada hari Kamis (4/11/2021) siang. Dalam rekaman video itu, mahasiswi itu mengaku dilecehkan oleh oknum dosen pembimbing, yang setelah ditelusuri ternyata merupakan salah satu kandidat calon Rektor Universitas Riau.
“Saya mahasiswi hubungan internasional Fisip Unri, angkatan 2018 yang mengalami pelecehan seksual di lingkungan kampus,” ungkap mahasiswi tersebut.
Kemudian mahasiswi itu menceritakan bagaimana kronologis pelecehan yang dialaminya, dan itu dilakukan oleh dosen pembimbing skripsinya.
“Kronologi pelecehan seksual yang saya alami, terjadi pada hari Rabu, tanggal 27 Oktober 2021, jam 12.30 WIB setelah melakukan bimbingan proposal skripsi. Di dalam ruangan tersebut kami hanya berdua, tidak ada orang lain selain kami,” lanjutnya.
Korban mengatakan, pelecehan itu diawali saat dosen membahas masalah pribadi mahasiswi, pekerjaan, kehidupan namun dalam percakapan itu, beberapa kali sang dosen mengatakan kata-kata “I Love You”. Namun saat mahasiswi itu akan pamit pergi, oknum dosen itu melakukan pelecehan dengan cara mencium mahasiswi tersebut.




